Minggu, 06 Desember 2015

"Nasihat Terbaik Adalah Kematian"

Nasihat Terbaik Adalah Kematian - Saya pertama kali mendengar pepatah arab ini dari guru siroh saya dulu ketika SD. Dulu saya tak mengerti kenapa kematian menjadi nasihat terbaik untuk seorang anak manusia. Yang saya tahu kehidupan kita di dunia ini meski sementara setidaknya harus kita nikmati, lalu kenapa harus menjadi beban memikirkan kematian yang pasti datangnya?

bird fly
everyone will gone
Dari dulu saya selalu berpikir hal-hal yang terlalu sederhana saja. Sesederhana kenapa telur menetas ya karena dierami. Tapi tidak sekarang. Semakin saya beranjak besar semua hal terlihat begitu rumit. ilmu yang saya pelajari saat ini juga memakasa saya untuk berpikir jauh lebih rumit. Tak bisa lagi berpikir telur menetas karena dierami, Tapi terjadinya perubahan pada zygot, banyaknya yolk, fase pembelahan sel, rantai DNA dan RNA yang terangkai dan banyak hal yang seharunya tak jadi pikiran menjadi pikiran yang wajib diketahui.

KEMATIAN. Mungkin sebagian orang memikirkan bagaimana ia mati kelak seperti saya yang pernah menulis tentang pemikiran saya di tulisan Ketika Aku Meninggal. Mungkin sebagian lagi sibuk mengejar karir di dunia maupun hanya berpesta pora menikmati kemegahan dunia. Saya pun terkadang masih lupa dengan adanya kematian yang menanti saya dari detik ke detik.

Innalillahi wa innailaihi raji'un....
Akhir-akhir ini entah diri saya yang semakin peka ataukah memang banyak kematian yang melanda disekitar saya akhir-akhir ini. Salah satu yang yang baru-baru ini kembali kepada-Nya adalah ustadz saya kala SMP dulu.dan saya terlamabat mengetahui beritanya. Yah, lagi ula bila saya masih sempat bertemu beliau, entah mau ditaruh kemana wajah ini. Hafalan gak nambah, amalan kacau, yang ada malah berkurang. Sebelumnya lagi juga orang yang saya kenal sebagai Hafidz 30 Juz plus multitalent dan belum menyempurnakan setengah agamanya juga berpulang. Sebelumnya lagi Ustadzah saya saat SD pun berpulang. Dan banyak lagi orang-orang yang menginspirasi saya dalam mencintai islam telah kembali kepadaNya. Saya takut, saya belum ada bekal apapun untuk meninggalkan dunia ini.

Ini adalah sebuah perenungan diri, Ketika kata-kata motivasi tak cukup untuk memperbaiki diri, maka kematian adalah pengingat yang terbaik. Bila ada yang berkata bahwa wajar iman itu naik turun, maka seharusnya tidak begitu. Sefatal mungkin keimanan mu sama dengan kemarin. jangan turun karena sesungguhnya kita adalah orang-orang yang merugi.

Sekali lagi saya mengatakan ini sebuh perenungan. Hampir setiap saat saya terpuruk kematian menjadi cambuk saya untuk bangkit. Setidaknya saat menyusul orang-orang yang mencintai islam yang terlah berpulang itu, saya harus lebih baik lagi. Insya Allah... Insya Allah.. 

3 komentar:

  1. Iya, bener. Makin ke sini makin banyak aja yang duluan ninggalin kita-kita. Faktor umur kita udah nggak muda juga kali, ya?
    Om sendiri, Teman SD, Teman SMP, Teman SMA. Rasanya makin ngebuat sadar kalau kita itu hidup nggak bisa becanda terus - menerus.

    BalasHapus
  2. Untuk aku pribadi peristiwa kematian tragis yang dialami oleh kedua orang tua dan ponakanku memberi perenungan tersendiri tentang kematian. Betapa kita gak pernah bisa menduga dengan cara apa nyawa kita akan terlepas dari raga...

    BalasHapus
  3. Untuk aku pribadi peristiwa kematian tragis yang dialami oleh kedua orang tua dan ponakanku memberi perenungan tersendiri tentang kematian. Betapa kita gak pernah bisa menduga dengan cara apa nyawa kita akan terlepas dari raga...

    BalasHapus

You word can change the world! you can left a comment on my post :)

Find Me On G+

Mahdiyyah Ardhina (2016). Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me :)

Google+ Followers