Review Film Tinggal Meninggal (TingNing) - (2025)

Kalau ada film yang ngebuat aku gak nyaman selama menontonnya, mungkin film Tinggal Meninggal ini adalah salah satunya yang masuk dalam list aku. Gimana engga, sepanjang menonton aku merasa ikut jadi 'orang gila'  kayak yang dirasain sama Gema. Hal pertama yang paling mengganggu adalah scene setiap kali dia ngomong sendiri.

Aku suka tone di posternya, mellow dan kerasa lumut banget. Meski aku ga paham nyambungnnya sama ngengat tuh apaan


Oke, kalau di area ramai dengan orang lain, kadang kan memang bisa sambil mikirin hal lain kan? Atau ada hal yang cuma tertahan dalam pikiran kita, tapi gak sampai kita keluarin ke orang-orang. Nah, film ini, si tokoh utamanya justru terus-menerus komat-kamit. Saat fase komat-kamitnya itu, seolah kita, penonton, diajak ngobrol sama dia, tapi kita takut ketahuan sama orang lain dan ikut dicap aneh.


Film ini menceritakan tentang Gema yang lahir dari keluarga broken home. Ayahnya kerja dengan cara menipu orang lain, dan ibunya sosialita gak jelas. Orangtuanya ada, tapi ga ada buat Gema. Dia ga pernah didengar, dan kehadirannya di dunia juga terlihat gak begitu penting bagi kedua orangtuanya. Dia di sekolah jadi sulit bersosialisasi sehingga menjadi sasaran yang empuk untuk dirundung oleh teman-temannya. Kalau dari aku entah kenapa langsung mikir, sikap aneh Gema itu akibat dikasih makan uang haram #punteeeeeeeeeeen

Sedih banget list sederhana ini masih belum bisa Gema wujudkan dari dia kecil sampai masuk dunia kerja. Hiks...


Kebiasaan komat-kamit si Gema ini kebawa sampai dia besar, sampai dia kerja jadi Data Analyst di suatu agensi. Dan karena emang dia udah nunjukin perilaku ansos juga rada aneh, ya, temen-temen kantornya juga ga ada ketertarikan buat rangkul atau sekadar ngajak makan siang bareng. Sampai akhirnya kabar duka ayahnya meninggal itu membuat teman-temannya berubah drastis jadi perhatian sama dia.


Kalau dari sudut pandang orang normal, tentu duka gema justru jadi alasan tepat bagi teman-temannya untuk bisa lebih deket dengan dia dengan alasan menghibur orang yang sedang berduka. Tapi karena Gema emang udah aneh sejak awal, dia merasa perhatian teman-temannya ini harus selamanya dan seterusnya ada sama dia. Padahal orang biasa mah sekenanya aja. Ada momen kita intens ngobrol dan hari-hari berikutnya ya biasa aja nyapanya. Nah Gema gak mau perhatian itu berkurang, setiap kali temen-temennya udah mulai gak deluan nyamperin dan ngajak ngobrol dia, Gema caper dengan buat berita-berita duka lainnya. Mulai dari kucingnya, oma-opanya, sampai kecelakaan pesawat pun, dia mengklaim bahwa ibunya korban dalam tragedi itu.


Temen-temen satu divisinya ini masih se normalnya orang menghirup dan gak naruh curiga satu sama lain, kecuali ada namanya Ibnu yang justru kerasa 'fishy' dengan musibah beruntun yang dialami Gema. Ibnu merasa seperti itu karena dia juga diam-diam melakukan hal yang mirip untuk mendapatkan perhatian dari teman-temannya. Kalau libur, dia suka ngaku healing ke luar negeri dan bagi-bagi oleh-oleh, padahal dia beli online. Lucu banget, karena ya senormalnya orang-orang kalau ada yang dari luar negeri, apalagi kecipratan oleh-oleh, ya kita seneng-seneng aja ya. Gak terlalu perduli juga dia bohong atau engga, yang rugi juga dia.

Temen-temennya juga sebenarnya try hard untuk tulus kaaan. Cuma emang mentalnya Gema yang udah bermasalah huwee.


Sampai akhirnya si Gema ini membuat drama too much dengan membuat berita bahwa dia ketabrak truk, menyewa orang-orang di sekitar rumahnya untuk membuat acara duka alih-alih lagi membuat konten eksperimen sosial. Temen-temennya itu dia undang dan ngaku kalau dia adalah kembaran dari Gema bernama Bima. Dia juga nyetak KTP palsu kayak yang dilakuin ayahnya dulu untuk kabur saat dikejar-kejar orang. Seolah inner child dia keluar untuk memberikan ide gak masuk akal itu. Ya, memang sepanjang film dia cerita mulu sama dirinya di masa kecil.


Dan drama aneh itu pun akhirnya kebongkar karena terlalu gak masuk akal memang. Emaknya datang dan mengusir orang-orang di sana. Temen-temennya jadi tau dan Gema juga  membeberkan semua kebohongannya. Saat semua lagi mencerna semua kejadian itu, gak lama Ibnu dateng dan effort banget ngeprint semua bukti-bukti kebohongan Gema. Masalahnya kan semua udah tau, dan si Ibnu ini keliatan banget modelan orang-orang yang suka banget ngorek kesalahan orang lain, wkwk.


Malem itu, akhirnya semua ninggalin Gema sendirian. Termasuk ibunya, aku keseeel banget kenapa ibunya Gema gak kunjung sadar kalau anaknya itu lagi butuh dia. Minimal dingertiin, dipeluk, atau apalah selain ninggalin Gema sendirian. Gema pun jalan sendirian dan ngelewatin jembatan, tangannya udah megang pager jembatan. Mikir apakah sebaiknya ia loncat. Nah, tiba-tiba kucing yang dia rescue dateng ngeledotin kakinya. Wedeeeew, aku terenyuh banget di momen ini. Karena aku juga ngerasain di saat aku ngerasa 'udahan' banget sama hidup ini, yang dateng itu kucing! Kucing itu kayak ngomong ke kita,"Terserah apa yang mau lo lakuin, tapi pastiin besok lo masih bisa ngasih makan dan ngelus gue." Wkwk.


Gema gendong kucing itu dan ngasih dia makan di rumah, terus dari situ Gema sadar apa yang harus dia lakuin tanpa ada distraksi obrolan dengan dirinya di masa kecil. Dia nulis surat, beliin hadiah yang detail dan sentimental buat teman-temannya sebagai permintaan maaf dan juga perpisahan. Besoknya dia datang lagi ke kantor dengan wajah pucat karena berbagai kejadian di jalan menuju kantor. Teman-temannya berusaha nyuruh dia tenang dulu sebelum ngomong, nawarin minum, duduk, dll., tapi Gema ngotot mau bacain kata-kata yang udah dia susun. Adegan berikutnya ngakak banget, kayak make sense itu terjadi, tapi kalau aku nonton adegan ini di bioskop, pasti aku bakal ketrigger juga, kacaauuu!

Ini masih adegan dimana dia dalam cerita bohongnya sih. Foto-foto scene yang kesebar di internet ga terlalu banyak. 


Akhirnya teman-temannya memahami kondisi Gema, bahkan manajernya juga ngasih keringanan buat Gema untuk tidak dapat surat peringatan ketiga, sehingga Gema masih bisa lanjut bekerja. Selanjutnya, di lift mereka semua pada ngakuin kebohongan yang mereka lakuin, dimulai dari Ibnu.


Pada akhirnya aku nangkep kalau semua orang punya hal-hal yang memang disembunyikan dalam batas wajar dan sebenarnya juga gak ngeganggu orang lain. Juga sebaiknya kita lebih perhatian dengan orang-orang yang kelihatan butuh pendampingan profesional kayak Gema ini. Kalau kita ngeliat ada orang cari perhatian dengan cara berbohong, lebih kepada maklumin aja kalau dia pasti punya latar belakang yang ngebuat dia jadi harus bersikap seperti itu. Gak ngebenerin perilaku berbohongnya, tapi kita lebih mencoba memahami aja.


Aku paling suka karakter Kerin di sini, meski keliatan nyebelin karena selalu mengoreksi sikap temen-temennya dan keliatan si paling oke dalam memahami orang lain, tapi Kerin keliatan banget orang yang paling berusaha untuk berbuat baik. Apakah dia berbuat baik untuk dipandang baik oleh orang lain ya justru itu bagusnya, bukan?


Gitu sih ending dari cerita ini, sampai akhir juga ibunya Gema tetap ya senormalnya naluri ibu aja, gak berusaha untuk membantu anaknya lebih baik. Sekedar nemenin Gema sampai akhirnya Gema ketabrak dan meninggal beneran.


The End.


Udah gitu aja. Aku rasa ini termasuk film Indonesia yang underrated karena tayang bersama beberapa film bagus lainnya. Ciao!

Posting Komentar

0 Komentar