Tangisku pecah ketika mic disodorkan padaku saat halal bi halal keluarga pihak ibuku. Perwakilan para anak, ujar mereka. Padahal, aku cucu ketujuh. Abang dan kakakku entah kenapa menumbalkan ku untuk malam ini. Yup, kami memulai halal bi halal di malam hari, terhitung sudah tahun ketiga seperti ini. Jika Nenekku masih ada di dunia, entah bagaimana beliau menyikapi kondisi ini. Memulai acara saja tak pantas dimulaau lewat tengah hari di mata nenek. Ah, lucu rasanya jika membayang-bayangkan.
Aku memulai salam dan langsung tersedu, pilu. Membuka kisah bahwa 3 bulan kebelakang aku turun menjadi relawan dan menemukan pelajaran besar bagaimana solidnya para keluarga yang saling bahu-membahu menyelamatkan sanak keluarganya pasca bencana itu. Pada akhirnya, jauh atau dekat jarak itu, keluarga adalah orang pertama yang menjadi penguat kita.
Keluarga besar kami tentu tak sempurna, dan takkan mungkin ada keluarga yang benar-benar sempurna. Namun keluarga yang masih menjadikan kita prioritas saat diminta untuk berkumpul di hari lebaran disaat tak ada lagi orangtua di rumah pusaka, adalah mimpi dari sebagian besar orang-orang diluar sana.
Keluarga konservatif, kaku, dan masih kuat mempertimbangkan adat dan budaya seringkali dianggap sebagai halangan untuk berkembang pesat, begitu pula keluarga kami. Sebebas-bebasnya kami bermimpi, batasan-batasan itu banyak sekali diberikan dari orang-orang tua yang saling ikut campur memberi saran dan masukan pada setiap anak-anak saudaranya. "Kemanakanku (keponakan) itu juga anakku" terlontar dari salah satu saudara ibu.
Aku tau, keluarga kami cukup loyal perkara bahu membahu, terutama urusan sekolah. Karena keluarga ini lahir dari pasangan pendidik. Atok guru bahasa indonesia dan nenek guru matematika serta madrasah. Bagaimana mungkin legasi pendidikan dibiarkan terhenti karena masalah biaya?
Masalahnya, kami (para anak) semua terlalu nyaman dengan hal ini. Dan para orangtua juga sudah jauh banyak mengalah dan memaklumi mental anak-anak now a days. Charles darwin dalam buku the origin of spesies, di bab the selection mengatakan bahwa makhluk hidup yang diberi dukungan penuh serta sumberdaya lengkap justru akan membuatnya berkembang pesat lalu merusak. Bisa merusak dirinya sendiri ataupun lingkungannya. Itu kenapa makhluk hidup butuh tekanan (stress) untuk membuatnya develop, bukan hanya growing.
Tentu saja bukan begitu yang aku katakan secara eksplisit. Aku menyampaikan selain kisah di Aceh Tamiang, juga permintaan agar tak bosa terus menasihati kami para anak-anak meski kami terus menolak, menghindar dan menujukkan raut tak suka saat dinasihati, esok, dua tiga tahun, kita akan paham apa pesan yang akan menyelamatkan kita. Hanya saja esok kami para anak, akan belajar lebih baik lagi menyampaikan pesan agar tak membuat luka trauma baik pada yang menyampaikan dan yang disampaikan.
Orang-orangtua yang sibuk menceramahi anaknya justru lahir dari orang-orangtua yang menyesal karena tak cepat memahami dan sabar mendengarkan ceramah dari orang-orangtua terdahulu.
Maka, untuk apa kita menuntut semua saling sembuh menyembuhkan jika sejak awal kita sulit untuk menerima sebuah luka. Untuk bisa naik sepeda, minimal ada dua tiga lebam dari benturan meski sudah pakai pelindung. Untuk bisa memiliki fisik yang sehat dan kuat, minimal ada korban waktu, tenaga dan tekad untuk rutin berolahraga. Dan begitu juga keluarga, untuk mendapatkan keluarga yang sehat, yang saling bahu-membahu (develop) tentu butuh banyak gesekan-gesekan untuk menciptakan spark yang indah. Untuk melihat spark itu, kita butuh penerimaan penuh. Kenapa? Karena jika ada isolator, ada pembatas yang dibangun untuk meilindungi diri sendiri, maka spark itu takkan pernah terjadi.
Indah nian seni berkeluarga, bagian dari seni kehidupan. Sebuah ladang kesabaran serta penerimaan. Bukan memelihara luka dan mewariskan trauma, namun merawat kesembuhan, menunjukkan bekasnya dengan senyum dan memberitahu apa rules do and dont nya agar tidak terjadi hal serupa. Esok atau lusa, bisa jadi keturunan kita membuat kesalahan serupa dan langsung tau solusinya atau malah membuat perkara baru yang belum pernah ada dari leluhurnya, namun ia akan menemukan cara lagi untuk mengobatinya dan memberi obat itu kepada generasi berikutnya. Oh sungguh indah.
Halal bi halal ditutup dengan salam-salam. Aku mendengus kesal kepada abang sepupuku nomer satu, akibat ia tak mau menerima mic. Abangku tertawa,"Sudah pas itu." Enak saja.
Di jajaran anak, tentu kata-kataku masih kontra dengan nasib mereka yang terus dibombardir oleh omelan. Akupun begitu. Tapi esok atau lusa, semua akan mengerti, Insya Allah. Karena jujur, aja banyak penyesalanku dari nenek yang takkan ku ulangi daripada orangtuaku yang masih ada saat ini.
Begitu saja tulisan ini ditulis dengan mata yang masih terasa panas di pukul dua pagi.
Oh iya, aku juga segan sih posting-posting keluarga besar karena tau ada banyak keluarga yang belum mampu untuk berkumpul, bahkan tidak mau, sedih sekali. Disisi lain, orang-orang dengan hati dan pikiran positif justru suka melihat sebuah keluarga besar akur berkumpul, dan ia akan bermimpi untum membangun keluarga serupa.
Terakhir, ya Allah lindungi keluarga ini serta keturunannya dan kumpulkan kami untuk saling tarik-menarik masuk kedalam syurganya Allah. Aaamin.
0 Komentar
Your word can change the world! you can be left a comment on my post :)