Advertisement

Responsive Advertisement

Review Film Perayaan Mati Rasa (2025)

Waktu awal tahun lalu, aku cukup sering bolak-balik ke kampus karena aku masih nulis artikel bareng dosenku, Bu Kaniwa. Biasanya di ruangan beliau, selain nulis, kami juga berdiskusi soal tren-tren terbaru atau perihal mentality Gen Z yang makin absurd. Mahasiswanya yang absurd itu termasuklah aku. Nah, di akhir 2024 dan awal 2025 itu cukup banyak film lokal yang menarik kayak Satu Kakak Tujuh Ponakan dan Perayaan Mati Rasa. Dosenku ini diajak kedua anaknya untuk menonton perayaan mati rasa. Setelah menonton, beliau sangat excited sekali menceritakannya padaku. Aku masih ingat Ibu mengatakna padaku bahwa filmnya ngebawa tentang defenisi zona laut, wajar, sebagai pengajar dan kami dari jurusan biologi, fokus utamanya adalah hal-hal yang berbau saintifik. Lalu fokus Ibu lanjut kepada perasaan yang relate dengan hubungan dia dengan kedua anaknya. Aku yang belum menonton mengangguk-angguk takzim. Aku bilang nanti kalau aku ada waktu, aku akan coba menontonnya. Dan akhirnya, karena sudah masuk ke aplikasi stream online, aku iseng mencoba menontonnya kemarin. Buset, setahun juga jaraknya wkwk.

I dunno, but tone warnanya aku rasa lebih ke langit daripada laut.


Perayaan Mati Rasa menceritakan dari sudut pandang Ian, anak pertama, yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan. Ia sudah tamat kuliah dan lanjut fokus mencapai mimpi untuk dilirik label bersama bandnya, Midnight Serenade, yang anggota lainnya diperankan oleh Devano Danendra (vokal), Dul Jaelani (Gitar), dan Randy Danistha (Drum). Aku sudah ketawa di awal sebab kenapa Randy Danistha bisa-bisanya bergabung dengan geng anak-anak kelahiran 2000-an ini, mana wajahnya masih cocok-cocok aja lagi! hahahaha.

Randy lo ngapain sih main sama bocah-bocah kata gue yaaak!


Tapi mimpi sebagai anak band ini seolah hanya menjadi pelarian bagi Ian. Ia merasakan perasaan kosong dan tidak merasakan apa pun yang ia namai fase di mana dirinya sedang berada di zona abisal. Kalau dari sisi biologi, ini adalah bagian terdalam dari lautan di mana penghuninya semua buta dan hanya mengandalkan insting untuk saling berinteraksi. Ian merasakan ia dalam posisi yang begitu jauh dari keluarganya. Tak ada yang mengerti dirinya sebab ia dalam posisi tidak mengerti akan dirinya sendiri. Yang ia pikirkan adalah bahwa orang tuanya lebih menyayangi Uta (diperankan oleh Umay Shahab) sebab adiknya bisa sukses menjadi podcaster dan terlihat lebih tahu tentang arah hidupnya.


Uta terlihat lebih dekat dengan keluarganya, lebih sering beraktivitas di rumah, podcast dari rumah, dan bisa menyeimbangkan kehidupan sosial dengan tetap perhatian kepada keluarganya, terutama ibunya yang sakit jantung. Uta terlihat ingin kembali dekat dengan abangnya, Ian, namun sikap Ian yang terasa menjauh membuatnya juga tak mau berkonflik lebih jauh sehingga memilih untuk meminimalisir komunikasi dengan abangnya.

Ayah mereka berdua adalah seorang pelaut, Kapten Satya, yang diperankan oleh Dwi Sasono. Satya melihat bahwa anaknya sudah menjauh dan ia juga dalam perasaan bersalah karena harus sering meninggalkan rumah begitu lama sehingga kurang membersamai keluarganya pada hari-hari penting anaknya. Sampai satu ketika ia mencoba hadir dalam audisi band yang diikuti oleh band Ian, justru diperlihatkan situasi konflik di audisi tersebut. Ian merasa malu dan menjadi emosional sebab kehadiran ayahnya justru pada waktu yang salah.


Itu adalah saat terakhir sebelum ayahnya kembali berpamitan untuk berlayar dan menitipkan pesan kepada Uta untuk fokus pada skripsinya, juga kepada Ian meminta maaf dan menitipkan keluarga kepada Ian.

Beberapa hari kemudian, Ibu Ian dan Uta terkena serangan jantung, harus operasi pasang alat pacu jantung, dan ke chaos-an itu belum berhenti sebab ayahnya sudah dua hari tak memberi kabar sampai akhirnya dinyatakan bahwa kapal ayahnya karam dan Kapten Satya tidak ditemukan. Setelah sepekan, pencarian diberhentikan dan perwakilan kantor Kapten Satya menjumpai Ian dan Uta untuk mengucapkan bela sungkawa serta hal-hal lain yang perlu disampaikan dari kantor, termasuk barang-barang terakhir Ayah mereka.

Masih dalam masa berduka, mereka berdua sudah dipusingkan untuk menutupi kenyataan pahit ini dari ibu mereka, karena mereka berdua tidak siap kalau harus kehilangan ibu juga akibat serangan jantung kembali jika mendengar kabar ini. Dengan bantuan teman-teman dan tetangga, semua jejak karangan duka cita dibersihkan. Setelah ibunya kembali dari rumah sakit, mereka juga berusaha menjauhkan ibunya dari berita, dari handphone, dan televisi, dengan alasan itu akan memengaruhi alat pacu jantung ibunya. Mereka berdua juga memanipulasi suara ayah mereka di telepon untuk meyakinkan ibunya dengan aplikasi pengganti suara yang masih diuji coba Uta untuk bahan podcastnya berikutnya.

Kerjasama kedua saudara itu membawa Ian perlahan masuk ke zona batial dalam hidupnya. Ia sudah mulai melihat hubungan-hubungan dan cahaya kembali dalam hidupnya meski samar. Kejadian yang menimpa ayahnya justru mengangkat nama band mereka melalui lagu 'Laut' yang terdengar sentimental di masyarakat atas musibah yang menimpa ayah Ian.

Tapi sampai kapan mereka bisa menutupi kenyataan pahit itu? Uta sudah ingin memberitahu ibunya, namun Ian menahannya. Ian terus berkata untuk menunggu waktu yang tepat. Dan Uta selalu menurut kepada abangnya meski hatinya bergulat hebat mempertanyakan setiap langkah yang abangnya ambil.

Untuk endingnya, teman-teman bisa coba menontonnya ya! hehe.

--------------------------

Menurutku, di era film banyak dibuat se-normal mungkin, se-manusiawi mungkin, dan se-relate itu dengan kondisi para penontonnya, film perayaan mati rasa ini juga memiliki segmen pasar yang cukup besar. Tentang hubungan keluarga di mana si sulung selalu merasakan beban ekspektasi dari orangtuanya, padahal orangtuanya tak menuntut banyak, kata-kata jaga keluarga terkadang hanya formalitas dari bentuk sosial di mana anak pertama punya peran sebagai pengganti pelindung keluarga jika kepala keluarga sudah tidak ada. Rasa sayang yang sering ditunjukkan dengan jelas kepada anak bungsu yang memang terlihat suka dengan validasi perasaan secara langsung justru terlihat sebagai upaya saling membandingkan antar-anak.


Pada akhirnya, yang menyatukan kembali sebuah keluarga adalah saling berkomunikasi. Ketika setiap anggota keluarga punya salah, lalu mengomunikasikan untuk meminta maaf dan bertanya alasan serta solusi jika konflik serupa terjadi lagi? Tak cukup sekali, namun berkali-kali hal ini akan terus terjadi untuk saling mendekatkan dan memahami, bukan untuk menjauhkan setiap anggota keluarga sampai ke laut terdalam hingga mati rasa.

Semua pemeran dalam film ini berasa sekali 'normal'-nya. POV anak pertama dari Iqbaal, anak kedua oleh Umay yang terlihat santai tapi di dalam banyak menyimpan uneg-uneg, dan juga tetangga, teman main Ian di waktu kecil, yang justru lebih sering menghabiskan waktu bersama ibu tetangganya, justru menjadi salah satu peran yang menyelamatkan keluarga kecil ini. 

Film yang disutradai oleh Umay ini tak perlu kukasih rate-rate segala. Ini film entah kenapa masih berasa kurang 'laut' dari segi warnanya. Lebih kepada tone biru tua aja. Tapi masih masuuuklaah. Kerasa perubahan tone-nya sampai ke perasaan 'hangat' di pantainya. Tapi bisa jadi karena aku bukan nonton langsung di bioskop kali ya. 

Alur ceritanya masih nyambung, kerasa banget karena film ini dari POV si Ian yang emang hidupnya lagi banyak blank aja. Kita ngerasaan banget gemesnya dia yang gak mau berbagi perasaan atau masalah yang ia hadapin. Merasa bisa mengatasi semuanya sendiri padahal orang di sekitarnya ngelihat banget dia butuh bantuan.

Penggunaan bahasa zona-zona laut ini aku kira lebih menarik jika ada visual-visual saat ia bergulat di pikirannya, sedang tenggelam dalam zona-zona itu. Jadi kerasa lebih 'film' daripada kayak sekadar menyorot one of the moments dari daily life sebuah keluarga.

Ni kalau ada novelnya, aku rasa bakal lebih deep sih. 

--------------------------


Nah, kembali ke situasi awal di mana aku bercerita soal dosenku ini. Karena kondisinya mirip memang, si Ibu ini memiliki dua anak laki-laki dengan usia mirip sekali dengan di film itu. Keluarga mereka keluarga mampu. Suami si Ibu kerjanya di luar kota dan pulangnya bisa beberapa minggu sekali. Anak keduanya juga terlihat lebih perhatian sama keluarga, hehehe.

Yaudah gitu aja, review film ini yang aku tonton karena penasaran kenapa dosenku excited banget menceritakan film ini kepadaku. Dan sekarang aku tau betul jawabannya. Yah, semoga semua anak sulung di dunia ini bisa lebih lembut sama dirinya sendiri dan merangkul keluarganya dengan hangat. Sekian dan see ya!



Posting Komentar

0 Komentar