Review Film Hayya the Power Of Love 2, Oh Mbak Helvy masih berani mengeluarkan film?

by - Kamis, Oktober 03, 2019

Hai Assalamualaikum, bukan Iyah namanya kalo gak langsung ngasi spoiler sejak diawal judul. Yup, review film kali ini tentu saja tidak ingin menambahi bunga-bunga atau iming-iming seperti yang tersebar di sosial media agar orang-orang ramai menonton Hayya the Power of Love 2. Yang jelas, Iyah akhirnya nonton film ini karena ada ajakan dari temen  dan gak rugi-rugi banget lah toh katanya nonton ini turut menyumbang untuk palestina. Kalau gak ada momennya tentu kadangkala lupa memberikan rejeki kita untuk membantu saudara muslim kita disana bukan?

Dari semua poster film aku paling suka yang ini.

Oke, aku bakal cerita kisah sebelum menonton film ini. Menurut review singkat dari kakakku yang lebih dulu menonton film ini, hanya Ria Ricis yang menyelamatkan film ini menjadi 'film' yang cukup normal. Um.. cukup kebanyakan, sedikit normal tepatnya. Karena, hati ini sudah sedikit kapok saat menonton Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) dan entah bego atau kerelaan hati karena terenyuh dengan novelnya maka aku lanjut  next menonton Duka Sedalam Cinta (lanjutan KMGP 2). Alur dan dialog cerita seolah plek-plekan diambil novel kasarnya dari segi pengamatan film normal lainya berantakanlah, namun hati ini sedikit mencoba memaafkan karena selalu dibilang kalau adaptasi novel ke film jangan berekspetasi tinggi...

Maka, karena aku tidak membaca Novel 212 The power of love ataupun Hayya (eh ini ada novelnya?) sepertinya aku bisa lebih objektif lagi dalam menonton karya mbak Helvy sebagai Produser difilm ini.

Film dimulai dengan Adi, lelaki gondrong brewokan yang berlarian di tengah sawah bersama anak sekitar umur 6-7 tahun dan diketahui bernama Hayya. Lalu, seperti sedang menonton film bajakan di laptop film direwind ke 2 jam sebelumnya. Yah intinya selama 2 jam mereka lari-larian karena gak sengaja masuk kesarang bencong dan si bencong-bencong ini ngira kalo si adi brewok adalah penculik anak. Trus mereka dikejar-kejar seluruh orang dikampung itu diikuti dnegan petugas berompi relawan. Selama adegan kejar-kejaran itu, si adi malah jadi sudut pandang ketiga buat nyeritain si Rahmat. Laaah si rahmat itu siapa?? oh, dia tokoh utama di film sebelumnya. 

baca reviewnya disini: 212 The Power of Love (punya orang sih, tapi kalau aku disuruh ngereview juga sama dengan yang ini)

Habis itu, cerita diseret lagi ke kisah 2 bulan sebelumnya... pake tulisan lagi. Pret dah. 

Dikisahkan si Rahmat ini setelah dulunya seorang islam yang gak suka islam trus hijrah dan ikut jadi relawan kemanusiaan ke palestina. Tiba-tiba dia di arena perang dan nyamber seorang anak, yaitu Hayya. Abis itu cuma ada emmm... 3 eh 2 eh 1 scene aja deh pas anak-anak itu lagi main-main trus momen si hayya dielus kepalanya sama Rahmat. Udah. Teruuus.... si Rahmat ditelpon abahnya yang ngingetin jangan asik jadi relawan dan lupa janji dia nikahin Yasna sebulan lagi di Ciamis, kampung mereka. 
Katanya sih syutingnya di Palestina...
Singkat cerita dan emang singkat dan gak ngeskip momen apapun di film, mereka pulang ke Indonesia melalui Turki dengan Kapal. Terus Hayya nya nangis gitu karena mau ditinggal Rahmat. Dimana dapat ku katakan, tanpa chemistry yang tepat ini adegan niruin film Ayla the Daughter of War.

Sampai di Indonesia, Rahmat kerumahnya yang di Jakarta. Tetiba film horor khas Indonesia, pecahin vas-vas dan duh udah males aku nyeritain scene yang gak serem dan gak penting itu akhirnya Rahmat malah melihat Hayya lagi makan coki-coki. 

"Hayya" dengan kalimat datar tanpa tanda seru dan tanda tanya hanya dialog itu yang dapat rahmat katakan. Terus dengan bahasa Indonesia Rahmat nanya sama Hayya gimana bisa dia sampai ikut ke rumah Rahmat? Terus Hayya meragain kalau dia masuk koper. Terus selama dikapal dia bakal keluar koper dan masuk lagi. gitu. (oke..... sabar... semua komentar akan aku sampaikan di akhir)

Dengan akting yang kaku dan aneh mau gak akhirnya keberadaan Hayya di ketahui Adi brewok gondrong. Adi menyarankan agar Hayya segera dilaporkan ke Pak Yusuf. Tapi Rahmat gak mau karena dikabarkan ortu Hayya telah meninggal keduanya di Palestina dan dia melihat kalau Hayya ini trauma dengan perang sementara Rahmat merasa harus melindungi Hayya karena masa kecilnya yang sendirian dan merasa dibuang(?)

Adi bagaimanapun tetap mendukung segala keputusan Rahmat. Best bro banget lah. Jadi dia juga bantuin cari pengasuh untuk Hayya. Disini masuk adegan kocak yang cringe abis. Kayak konten-konten komedi di youtube ala Kevin Anggara. Jauh bagusan kevin dong.

Setelah ketawa - ketiwi agak canggung (yah kayak mau ketawa lepas cuma bego aja kalau ketawa hanya karena itu, semacam itu) Akhirnya diputuskanlah Ria Ricis menjadi pengasuh Hayya. Nah tenryata si ricis yang katanya dari Malaysia ini dengan bahasa melayunya hobinya bergosip sana-sini ke tetangga dan tukang sayur. Sampailah ke momen si Ricis bosen dan ngebawa Hayya keluar komplek buat liat acara tujuh belasan. Yup, gatau gimana udah Dirgahayu RI aja. Terus terpisahlah si Hayya dari Ricis. Ricis ketakutan dan nelpon Rahmat. Rahmat sama Adi panik dan nyari Hayya ke... bawah jembatan layang. Hebat gitu ya nyari anak kecil pake feeling.

Makin panik, masuk laporan kalau Hayya udah dicariin karena hilang dari camp palestina. Laaah lama amat bung baru dicariinnya. Okelah birokrasi emang lambat ye kan.

Mereka kabur langsung ke ciamis. Sampai di Ciamis udah rame orang di rumah abahnya Rahmat. Ricis dan Hayya ditinggal dulu di mobil. Rahmat dan Adi masuk trus langsung disambut sama abah dan keluarganya Yasna. Intinya si Abah yang nyuruh tiba-tiba Rahmat balik ke Ciamis. Loh?Loh?Loh?

Hayya masuk kedalam rumah ditengah keramaian orangdan manggil Ramat dengan bilang 'Abi!' terus Ricis masuk ngejar Hayya dan bilang 'Hayya sini sama ummi!' semua langsung salah paham dong terutama Yasna. KLISE ABIS

Abahnya Rahmat tiba-tiba pingsan dan akhirnya Rahmat dan Adi berusaha menjelaskan kejadian yang sesungguhnya. Syukurlah semua paham. YAIYALAH.

Eeeh ternyata si abah cuma pura-pura sakit. Dia marahin Rahmat dan akhirnya sayang ke Hayya.

Kupersingkat lagi cerita simple ini, akhirnya Rahmat dan Yasna menikah semenatara Adi disuruh menemani Hayya dan Ricis di rumah Abah karena kalau ikut datang ke nikahan nanti banyak yang lihat Hayya.

Petugas dari relawan kemanusiaan pun mendatangi rumah abah saat akad sedang berlangsung di rumah yasna. Ricis mencoba mengulur petugas dengan bilang kalau rahmat sedang tidur karena kalau dibilang ini hari pernikahan rahmat takutnya terganggu. Cuma ya masa sih Mantan relwana kagak ngundang kantornya gitu??? masa mereka ga tau si Rahmat nikah hari ituuuu ASTAGA

Eh saat Ricis ngeulur waktu kedengaran suara Hayya saat melompat di Jendela bersama Adi. Mulailah adegan kejar-kejaran diawal film tadi bersama bencong-bencong dan petugas relawan juga.

Akhirnya Hayya ketangkep dan dibawa paksa. Adi pulang dan Ricis yang melapor ke Rahmat yang baru selesai acara akad kalau Hayya udah dibawa. Rahmat ngedatengin Adi yang terduduk di depan rumah abah. Jangan lupa adegan klise lainnya... hujaaaaaaaaaaan.

Rahmat tanpa babibu langsung nonjok muka Adi yang best bro nya. woylah! terus mereka berantem di pisahin sama aku gak tau peran si hamas syahid sebenenernya apa tapi dia yang bantu ngerelai. Yasna datang dan marahin Rahmat kalau Cintanya pada Hayya itu hanyalah obsesi karena rasa trauma Rahmat dimasa lalu dan ketakutan Rahmat untuk menembus dosa-dosanya yang banyak. Rahmat gak terima dan langsung naik mobil pergi meninggalakn Yasna yang masih pakaian akad ditengah hujan bersama adi dan si.. hamas. Terus karena kalut, mobil Rahmat ditabrak truk.

SINETRON ABIS.

Hayya dibawa pulang setelah perpisahan sama Abah, Ricis, Yasna dkk... tanpa Rahmat.

Rahmat sadar dari komanya dirumah sakit yang umm... kayaknya kamar kelas 3 kali yak wkwkw.

Yah udah.

Hah UDAH?

iya udah. abis.

_________________________________________________________________ 

Jadi ya gaes, aku berani bilang kalau kelasnya film ini sekelaslah sama Sinetron-sinetron Indosiar tapi lebih bagusan dikit. Karena kurang detail, kurang runut alur cerita, tokoh kurang chemistry dan tidak menjiwai. Bahkan kata temen aku si Rahmat itu pasti pecandu parah! yakali dia dijadiin tokoh utama film kemanusiaan ini meski ini lanjutan dari 212 the power of Love. Karena sebenarnya film Hayya ini bisa banget jadi satu film sendiri tanpa ada embel-embel film sebelumnya. Dan cara Rahmat berinteraksi sama Hayya itu pandangannya gak selo. kek pedopil. Adi jauh lebih friendly dan terlihat sering interaksi sama anak-anak.
Ini si adi ya gaes. Males nampilin Rahmat.
Sebaiknya kalau mbak Helvy mau ngeluarin film lagi cobalah sebelum finishing dikasih dulu nonton sama orang-orang yang sering nonton film... Plis banget mbak, sayang loh film-film dakwah gini kalau cuma dijadiin cemoohan doang. Kita kan niatnya mau agar pesan-pesan dakwahnya sampai. Minimal agak-agak setotal film Munafik produksi Malaysia mungkin... Oke, mungkin agak ga relevan membandingkan dengan film horor. cuma yaitu, feelnya gak dapet.

Udah gitu banyak miss nya kelihatan kalau dalam keseharian mereka jarang jawab telepon pakai salam atau ke oranglain pakai salam.

Pesan sebenarnya gak dapet. Kalau dari yang aku tangkap yang ingin disampaikan
- Trauma anak-anak korban konflik
- Rasa sayang antara relawan dan anak-anak palestina
- Cinta dan obsesi berbeda

Kalau kalian mau nonton film ini sangat aku rekomendasikan lah buat yang suka penyajian dialog-dialog ala puisi, dinasehatin dari film dan kalau gak sempat menyisihkan sedikit rejeki untuk Palestina ya bisalah dari Film ini...

Yah apasih yang mau diharepin dari film yang digunakan hanya untuk galang dana dan dibuat dengan buru-buru begini?

Sekian Review aku kali ini. Silahkan marahin aku di kolom komen seperti biasanya kalau aku ngritik secara pedas hahaha.

Wassalam!

You May Also Like

0 komentar

You word can change the world! you can left a comment on my post :)