Ada hal yang membuatku tertarik menonton ini, pertama, ratingnya cukup tinggi di IMDb, yakni 8/10, kedua, aku sudah lama tidak melihat film dari negara Indonesia versi Katolik, hehe. Indonesia dan Filipina ini memang semirip itu loh kehidupan sosial negaranya. Kalau Indonesia yang mayoritas beragama Islam dan memakai 'Tuhan' sebagai dasar negara yang pertama, tapi kelakuan pejabat dan masyarakatnya malah mencerminkan perilaku tidak ber-Tuhan, nah, sama kayak di Filipina dengan moto negaranya menyebut nama Tuhan pertama, tapi kelakuan pemerintah (yang kubaca di berita) dan masyarakatnya gak memakai azas ketuhanan seperti di film Project Baby (2026) ini. Wuaduh, pembuka review macam apa ini, wkwk.
![]() |
| Meski covernya begini, isinya ga ada nudity kok. |
Industri hiburan dan kreatif Filipina juga akrab di televisi Indonesia. Kalau kelahiran 90-an ke bawah pasti akrab dengan sinetron Marimar (aaw!), bukan? Yup, sinetronnya mirip-mirip, jadi aku mau lihat apakah sekarang masih mirip atau ada yang menjadi khas dan berbeda?
Oke kita masuk langsung dalam ceritanya. Film ini dimulai dari adegan pernikahan sahabat dari tokoh utama. Seperti layaknya budaya Asia, setiap kali ada yang menikah, pasti yang belum menikah ditanyain,"Nah, elu kapan?" Bete banget ga sih. Sandy, tokoh utama, seorang perempuan alpha yang sukses dalam pendidikan, karier dan popularitas memiliki prinsip sebagai perempuan independen yang tidak mau bergantung kepada laki-laki. Tapi Sandy sangat suka dengan anak-anak, ia sayang dengan keponakannya bahkan dengan anak teman-temannya juga. Ya lagi-lagi, setiap kali dia terlihat dekat dnegan anak-anak, ada aja celetukan,"Punya sendiri dong, buat!" Hadeeeh, benar-benar persis mulut emak-emak di Indonesia, deh. Salah satu sahabat Sandy merupakan dokter obgyn dan mengatakan kalau usia Sandy sekarang itu cukup baik untuk punya anak. Ya, Sandy mau punya anak dan cukup percaya diri dengan finansial dan kesehatannya. Sehingga dia mengumumkan kalau dia mau menjadikan ini sebagai proyeknya bahkan dia sampai buat pitch deck! Intinya, Sandy mencari laki-laki yang mau berhubungan seksual dengannya, tapi tidak mau ada komitmen. Kenapa gak bayi tabung aja? Katanya tidak natural, adududuh~
![]() |
| Dengan pedenya Sandy mempresentasikan proyeknya ini ke anak-anak kantornya~ |
![]() |
| Dan ini ekspresi anak kantor saat menyaksikan presentasi itu. hahaha! bos mereka sudah gak waras! |
Sandy memiliki trauma tentang perpisahan keluarganya. Ia selalu mendengar orang tuanya bertengkar saat masih kecil dan akhirnya orang tuanya berpisah. Meski begitu, ibu Sandy mampu membesarkan dia dan abangnya dengan baik. Itu sebabnya, menurut Sandy ia cukup punya bayinya saja, tidak mau berurusan dengan drama pasangan. Kalau di kristen, setauku memang tidak ada kata cerai. Bahkan aku sering mendengar kata-kata ini dari teman-teman kristiani,"Apa yang sudah dipersatukan Tuhan, tidak boleh dipisahkan oleh manusia." Jadi kalau mau berpisah di Kristen itu ribet, bahkan harus bayar denda segala ke pimpinan Agama. Dan sebagai CEO advertising, setiap hal harus dipertimbangkan dengan detail sampai akhir. Termasuk keinginannya untuk punya bayi tapi tidak mau resiko perpisahan dengan pasangan akan menjadi masalah baginya di kemudian hari.
Pencarian partner pun dimulai dengan bantuan para sahabatnya. Ada yang cakep, tapi ternyata gay. Ada mantan yang oke banget, tapi ternyata dia akan menikah dua bulan lagi. Yah, intinya banyak laki-laki yang menganggap keinginan Sandy ini gila. Kalau aku liatnya udahla gila, tebal muka juga. Pede sih pede sama latar belakangnya, tapi ya gimana ya....
Bagaimana dengan keluarga Sandy? Sama aja, ibunya menentang. Kakak laki-lakinya lebih open-minded dan menenangkan ibunya. Intinya biarin aja dia melakukan apa yang dia mau, toh ga bakal mudah menemukan orang yang mau berpartisipasi dalam proyek aneh ini.
Sampai akhirnya temannya mengenalkan Sandy pada Migo, seorang pelukis artistik yang berpendidikan dan terlihat... stabil. Setelah perkenalan pertama, Sandy langsung yakin untuk memasukkan Migo ke dalam list potensialnya karena melihat sikap Migo yang cukup lembut pada anak yang tak sengaja menubruknya. Dengan gerak cepat, Sandy langsung mendatangi studio Migo dan mengutarakan maksudnya. Migo kaget dan langsung berpikir, apakah si Sandy ini pakai narkoba? hahaha!
Tapi setelah berkonsultasi dengan teman-temannya, Migo mencoba untuk mengikuti permainan Sandy. Migo mendatangi Sandy ke kantornya dan masih harus kaget lagi karena ia harus melihat pitch deck dari proyek ini lalu menandatangani kontrak. Tapi kalau aku bilang Migo ini kepalang gabut. Ga bisa move on dari mantan dan pengen melakukan pembuktian diri kalau dia bisa bermanfaat (?)
Proyek di mulai 10 hari kemudian, di masa suburnya Sandy. Mereka berdua pergi ke pulau yang mungkin eceknya Maldives kali ya. Di situ Sandy mantep banget membangun benteng antara perasaan dan melancarkan proyeknya. Apa itu membangun chemistry, bonding, dan lain-lain? gitu tiba waktu yang sesuai dengan teori yang dipelajari Sandy, secara gragas langsung gas! Takut bangeeeet huahahaha! disclaimer, gaada adegan yang gimana-gimana, hanya simbolis aja. Untuk ukuran film filipina, ini cukup 'aman' untuk usia 20+ lah. Jadi bukan geli atau gimana, cringe parah sih, Sandy parah banget, Migonya kasihaaaan, astaga. Tinggal dikasih bayaran aja sama si Sandy, udah la jadi gigolo status di Migo. Lagian sih Migo, ngikutin proyek cewek gila, hahaha!
Selesai liburan mereka, Migo nganter Sandy balik ke rumah. Di situ Migo udah nunjukin kelembutan sebagai pasangan yang menanyakan apakah Sandy besoknya langsung kerja? terus Migo minta dikabarin kalau proyeknya berhasil. Jawaban Sandy tetap profesional, sebenarnya, dalam kontrak urusan Migo dan Sandy selesai. Jalankan proyek, lalu lupakan. Tapi Migo adalah orang yang cukup sentimental, terlihat dari jawaban saat Sandy bertanya berapa body count-nya, Migo malah menjawab,"I don't count bodies, I count hearts." Aelah sa ae lu ngab.
Dan proyek itu tokcer, sekali getok langsung caer, yup Sandy hamil! Sandy mengabari Migo dan Migo sangat ekspresif bahwa dia turut senang dengan kabar ini. Habis itu Migo rutin ngirim buah jambu merah dan bumbu somboinya, karena Migo notice kalau Sandy suka buah ini di beberapa kali pertemuan mereka sebelumnya.
Nah yang krusial adalah ketika ibunya Sandy mendapati anaknya benar-benar gila karena berhasil menjalankan proyek tak masuk akalnya ini. Ibunya mengatakan masa iya seorang ibu membiarkan anaknya menempuh jalan yang salah hanya dengan dasar agar anaknya bahagia? Tapi Sandy yang memang keras kepala batu akut menganggap ibunya selalu mengontrol kehidupan dia padahal ibunya juga tidak sempurna menjalani hidupnya. Tapi, begitulah ibu, kan? Akhirnya Millie, ibu Sandy, meminta agar ia bisa bertemu dengan laki-laki yang jadi bagian partner proyek anaknya ini.
![]() |
| Melebur banget sama keluarga ya Migo~ |
Sandy mau tidak mau akhirnya mengundang Migo untuk makan malam bersama keluarganya dan... perfect! secara alami Migo bisa masuk dan diterima keluarga Sandy. Tante Millie juga sangat suka dengan Migo. Setelah dari pertemuan itu, Sandy kembali membatasi diri dengan Migo. Tapi tidak terlalu masalah karena Migo sudah masuk ke grup keluarga yang ga ada Sandynya, parah bangeeeet, hahaha!
Dari situ Migo tetap perhatian dan ikut mendukung proses kehamilan Sandy. Migo memiliki ikatan sayang yang sangat natural pada anaknya. Migo meminta agar anak itu boleh mengenalnya sebagai Ayah. Tapi itulah batasan puncak Sandy memutus komunikasi karena melihat Migo sudah terlalu jauh dari kesepakatan awal.
![]() |
| Cakep sih babang, tapi tua, tapi cakep, tapi tua :( |
Migo berusaha menemui Sandy tapi selalu saja ditolak. Bahkan keluarga Sandy juga tak berkutik untuk membujuk Sandy agar lebih lunak terhadap Migo. Sampai akhirnya, 2 pekan sebelum hari perkiraan lahir (HPL), Migo menunggu Sandy di depan rumah Sandy. Sandy yang marah dan ngomel malah memicu kontraksi sampai ketubannya pecah! Migo panik luar biasa dan gelagapan mengantar Sandy ke Rumah Sakit.
Akhirnya persalinan berjalan lancar. Saat Sandy sadar, ibu, keluarga dan sahabat-sahabatnya sudah mengelilinginya, tapi tidak ada Migo di sana. Akhirnya diberitahukan bahwa Migo sedang di kamar bayi bersama bayi perempuan mereka. Meski ada raut kecewa dari Sandy karena bayi tersebut bukan laki-laki, melihat semua orang mendukung dan menyemangatinya, ditambah saat melihat Migo yang sangat sayang pada anaknya, membuat hatinya luluh menerima bahwa tak semua hal sesuai dengan rencana yang ia susun.
Penutupnya? 5 tahun kemudian mereka tetap menjalin hubungan co-parenting tanpa ikatan pernikahan dan bahkan berencana melaksanakan proyek kedua, wuedan.
Udah gitu aja. Apa yang bisa dipetik dari film ini? Ape ye, aku nontonnya karena iseng doang, jadi cuma bisa liat perilaku sosial masyarakat Filipina yang sedang berkembang saat ini. Intinya, kalau pernikahan itu dirasa ribet oleh kaum muda Filipina mengingat kasus perceraian tinggi sekali katanya di tahun 2025-2026 ini di sana.
Btw, film ini digarap dengan cukup singkat, 10 hari saja. Awalnya aku kira ini diambil based on novel, ternyata engga. Memang murni ditulis untuk film ini. Nah, yang menarik adalah pemerannya. Si Sandy di perankan Sue Ramirez baru menginjak usia 30 tahun ini. Sue Ramirez ini setara dengan Ariel Tatum lah popularitas dan kariernya di Filipina. Sedangkan yang jadi Migo... unexpected... Rico Blanco adalah salah satu personel band yang usianya sudah menginjak 53 tahun. Buset. Jyujur kageeet! Memang sih ada celetukan di film kalau dari foto si Migo ini agak 'tua'. Ternyata tua beneraaan. Aku kira tuh masih di late 30 atau early 40 gituu. Masalahnya pemeran ibunya Sandy, Millie, usianya masih 57 tahun. Kalau di Indonesia ini kayak Ariel Noah jadi Dilan sih. ketuaan, Haha. Tapi memang kalau aku ngeliat orang Filipina, aku jarang bisa nebak persis usianya sebab mereka itu banyak yang mix antara Asia dan Amerika, karena sampai tahun 1992 dulu ada pangkalan militer Amerika sekitar di sana dan berbaur dengan masyarakat lokal.
Okay gitu ajah reviewnya. Jangan ditiru dan normalisasi perilaku film ini ya, sangat tidak Asia sekali. Di Filipina juga, walau banyak yang melakukan, tetap tidak lazim ya…
Ciao!

%204.png)
%203.png)
%205.png)
%201.png)
%202.png)
0 Komentar
Your word can change the world! you can be left a comment on my post :)