Muti, Muncul Tiba-Tiba, Pergi pun Tiba-Tiba

Menulislah, Med. Biar empatimu tidak merusak diri sendiri.

Kira-kira begitulah motivasiku dalam mengetik tulisan ini kali. Aku mengetik dengan jari tengah, manis dan jentik kananku yang nyeri luar biasa setiap kali menyentuh tombol tik. Sialnya aku tak mengetik sebelas jari. Sehingga proses mengetik ini menjadi begitu menyiksa. Tapi tak lebih menyiksa dari air mata yang belum juga reda sejak kemarin sore. 

Kucingku mati. Aku menyaksikan respon pupil matanya melemah, membesar, dan cahayanya menghilang. Kematian kucing peliharaanku bukan sekali ini saja. Keluargaku merawat kucing sejak kecil. Dan setiap kali kucing yang kami asuh mati, aku menangis. Kami sekalipun tak pernah membeli atau yang katanya adopsi (berbayar) itu. Merawat hewan liar seperti sudah lumrah saja. Sudah seharusnya. Suatu kali, Ayam pernah nyasar di rumah kami. Betina. Ia bertelur di taman kecil kami. Mengeram. Rintik terdengar dari dalam kamarku. Aku yang masih kelas 3 SD saat itu mengambil kardus dan payung. Berusaha melindungi sang induk ayam dari gerimis. Tak lama, Ayah menambahkan perlindungan dengan selembar seng. Dua hari kemudian, si ayam sudah punya rumah yang dibuatkan Ayah. Dan setelah aku kuliah, aku baru tau tak apa ayam kena hujan. Ayam itu beranak pinak, mungkin sekitar 2-3 tahun kami tak membeli telur ayam kampung dan selalu makan ayam kampung muda. Dan begitu virus flu burung merebak dan sampai kepada wilayah lingkungan kami, akhirnya semua ayam harus dihabisi intuk mencegah risiko. Aku sedih, tapi aku memahami betul kenapa hal itu dilakukan. Ah, jantan terbaik kami saat itu diberi nama oleh ayah, Rambo. Sebelum tau ayam di upin ipin bernama Rembo.

Kami juga pernah merawat anak burung cerucuk yang jatuh dari sarangnya. Setelah ia bisa terbang, ya sesekali ia masih menyapa merdu, mungkin. Aku tak cukup yakin sebab burung kecil itu tampak serupa semua diantara rimbun pohon seri, saat itu.

Urusan merawat peliharaan ini selalu ditanggapi Ayah dengan serius, memilih pakan terbaik, membangun kandang yang bagus, mencarikan obat dan sebagainya. Bedanya dengan merawat anak, hanya pada ayah tak mendidik peliharaan kami dengan baik. Baik kucing maupun ayam yang berak di halaman tetangga, ayah hanya meminta maaf dan berkata,"Namanya juga hewan."

Sejak awal kata 'kami' yang merawat hewan di rumah adalah aku dan Ayah. Ibuku sibuk dalam karir akademik, kakakku sejak tamat SD sudah masuk pesantren, lalu kuliah dan merantau. 

Saat Ayahku meninggal dunia 30 April lalu, aku melepas semua emosi kesedihan sepusas-puasnya. Meski orang-orang mengingatkan agar aku tidak histeris dan meratap, aku tidak perduli sebab aku sudah yakin dan paham betul batas akidah yang aku pelajari. Dari pada aku menahan diri saat itu untuk melihat jasad Ayah terahir kali lalu menyesal di kemudian hari. 

Di malam pertama kepergian Ayah, ingatanku samar. Yang pasti aku merasa ini masih tak nyata. Malam kedua dan ketiga, ada yang mencoba mencari perhatian diantara para pelayat. Seekor anak kucing, sebesar tikus, kurus, perutnya buncit, jelek lah pokoknya, sibuk melendot pada orang-orang. Beberapa mencoba memberikannya makan. Tapi ia tidak mau, yang ada ia malah mencoba minum dari sedotan. Semua menertawakan kebodohan kucing keceil itu, sepersekian detika kemudian mereka semua mengambil gawai dan mengabadikan ada kucing mampu menyedot air dari sedotan. Sayangnya aku tak punya momen itu sebab saat itu tak terlalu perduli, masih diliputi rasa sedih yang luar biasa.

Sampai sepekan, kucing kecil itu seolah memilih rumahnya sendiri. Ia masih berkeliaran di sekitar hingga dalam rumah. Aku tak terlalu perduli sebab ia masih kecil, kucingku yang lain juga tak terganggu dengan kehadirannya.

Selama sebulan, saudara, rekan, dan teman-temanku rutin menyambangi ke rumah. Rumahku tak pernah sepi. Selama itu pula kucing kecil itu turut ramah menyapa para tamu. Lalu kami memberi namanya, Muti, singkatan dari 'muncul tiba-tiba'. Mengikuti kebiasaan Ayah yang suka menyingkat untuk memberi nama-nama kucing liar seperti puhit (putih hitam), tampu (hitam putih), Beti (belang tiga), Daisy (datang sendiri) dan lainnya.

Muti sangat lincah sekali, khas anak kucing pada umumnya. Aku tidak tau kenapa ia lekat dan tak canggung di rumah kami. Kalaupun ia dibuang seseorang, apakah kebetulan di hari Ayah berpulang? Atau kalau ia memang kucing liar yang lahir diluar, bagaimana ia menemukan jalan menuju rumah kami? Wallahu a'lam. Yang pasti seperti biasanya kami mencoba merawat dengan sebaik-baiknya.

Sampai ketika peristiwa mati lampu yang cukup chaos di kota medan sejak awal Juni. Temanku datang ke rumah, untuk cerita sekalian masih di masa menghiburku. Karena mati lampu, kami pun pindah nongkrong di luar rumah, di pinggir sungai kanal, makan kacang. Muti? ikut denganku. Ia berlarian dengan ceria bolak-balik menyebrang jalan. Temanku sudah khawatir karena Muti lasak sekali. Dan betul saja, saat adzan ashar, ia tertabrak sepeda motor. Sepeda motornya kabur begitu saja. Aku langsung memeluknya, jilbabku berlumuran darah. Kami kembali kerumah dalam kondisi rumah masih mati lampu dan sinyal telepon jelek sekali. Dipelukanku, Muti sudah mengeluarkan kotoran. "Ah, tanda-tanda hewan bakal mati." Pikirku saat itu. Aku mencoba menghubungi dokter hewan langgananku dan belum kunjung mendapat balasan. Karena aku bingung juga saat kondisi kta medan yang cukup chaos karena mati lampu dan pertalite langka, aku tidak tau apakah dokter itu ada di kliniknya atau tidak. Lalu aku mencoba menghubungi beberapa nomer klinik hewan yang ada di google. Rata-rata tidak fast respon sebab sinyal memang kurang stabil. Melihat Muti yang masih terengah-engah dengan darah yang terus menetes, Ibu bilang kita berangkat saja cari pet shop yang buka. Aku menjelaskan bahwa pet shop dan klinik hewan itu berbeda. "Ya sudah, kita jalan saja ke klinik biasa." Kata ibuku bertaruh. Ibupun memboncengku dengan sepeda motor, aku memangku kardus yang berisi Muti di dalamnya. Pet cargo entah dimana saat itu.

Sepanjang perjalanan aku masih mencoba menghubungi kontak klinik hewan yang lebih dekat dari klinik ku yang biasa. Dan dapat! satu klinik menjawab dengan cepat. Kami segera menuju kesana. Nama kliniknya... Dokter Hewan Karya Wisata. Pantas saja peringkat pencarian di googlenya halaman pertama. Mereka pakai nama langsung dokter hewan, embel-embelnya cuma lokasi tempatnya saja. Begitu sampai, gelap. Disana juga mati lampu. Akupun menyerahkan kardus berisi Muti. Vet memeriksa dengan lampu senter. Diagnosa langsung diberikan, rahang bawah muti retak. Dokter tak menjanjikan sembuh, tapi mengupayakan yang terbaik dan langsung memberikan gambaran rincian biaya sebelum melakukan tindakan. Transparan sekali. 

Syukurlah, Muti selamat. Tapi masih harus kontrol rutin sampai kawat di mulutnya akan dilepas 3 bulan kemudian. Tapi belum genap 3 bulan, Muti menunjukkan progres dan kawat di mulutnya justru sering membuatnya iritasi. Seperti orang yang dipasang kawat gigi. Jadi aku meminta untuk dilepas saja. Tapi sayangnya, muti seperti menjebakku. Dulu dia sangat manis, sejak operasi itu dia jadi mudah mendesis dan mengigit. Sehingga melepas kawat di mulutnya tak mudah dan butuh penanganan bius. Yup, bius berarti menambah biaya.

Aku mikir, kalau steril juga akan dibius. Aku bertanya apa muti sudah bisa steril dan jawabannya bisa. nice. Pikirku. Mutipun disteril dan kawat di mulutnya dilepas. Kembali kontrol rutin.

Seperti biasa, muti menunjukkan progres yang bagus. Jahitan sterilnya bisa dibuka beberapa hari lagi. Tapi tanggal 8 September kemarin, aku sudah tidak di rumah sejak pagi. Saat aku di jalan, ibuku mengabari kalau muti muntah cairan warna kuning. Saat melihat foto itu, itu muntahan yang tidak normal. Aku langsung meneruskan foto itu ke drh. Azmi. Dan langsung menyarankan untuk membeli obat lambung untuk mengatasi muntahnya. Aku meminta tolong kepada ibu membelikan obat itu dan tak lupa untuk mencekokinya air minum agar ia tidak dehidrasi.

Lalu aku baru sampai rumah saat hari berganti. Aku langsung mencari muti. Kata ibuku dia tak mau makan dan hilang sejak sore. Aku cek cctv, muti tidak keluar rumah. Nyaris 1 jam aku mencarinya dan menemukannya di lemari. Kondisinya masih oke, tapi tetap tidak mau makan. Aku cekoki langsung dengan makanan cair, langsung muntah. Wuaduh. Sudah gak betul ini.

Paginya aku langsung menghubungi Dokter Hewan Karya Wisata lagi. Aku bersiap berangkat dan insiden terjadi. Tanganku digigit dengan brutal oleh kucing liar yang menerobos masuk ke ruang makan. Itulah sebabnya aku masih nyeri sekali selama mengetik tulisan ini. Aku pun terlambat di waktu yan telah dijanjikan dan selanjutnya dokter sedang tidak ready. Aku meminta izin untuk membawa ke vet lain. Aku menuju dokter langgananku, drh Dona, meski jalanan menuju kesana cukup sempit untuk dilalui mobil, itu juga yang membuatku sedikit ragu. Di tengah tangan nyeri, aku takut tidak konsentrasi. Lalu aku melewati Vet yang baru buka dan menawarkan layanan 24 jam. Aku ingat ini pernah disarankan oleh temanku. Akupun memutuskan untuk periksa disini saja. Begitu masuk lobby, senormalnya vet baru ruangannya bersih dan aestetik, pikiranku langsung melayang pada meme,"ini pasti mahal ya, ica". Cuma aku yang sudah lemas, demam dan sakit kepala akibat nyeri serangan kucing pagi tadi tidak terlalu peduli dan berharap muti segera dapat penanganan.

Kesan pertama yang aku dapatkan di ruangan itu kurang baik. Administrasinya lambat sekali. Pasien tidak diutamakan, Khas rumah sakit umum sepertinya. Aku ditanya nama panggilan, nama lengkap, nomer telepons sampai alamat rumah. Maksudku, kenapa tak sekalian minta KTP ku saja. Lalu aku menunggu lagi untuk masuk ruang poli. Aku langsung bilang,"dokternya ready tidak? apa tidak bisa lansung diobservasi saja?". Paramedik yang membantu baru bangkit dan masuk ke ruang poli, lalu menyampaikan padaku bahwa dokter sudah siap, hewan sudah boleh dibawa masuk. Dokter menyapa ramah, aku yang lemas langsung menjelaskan situasinya. Lalu hasil pengamatan sementara setelah mengecek suhu muti yang rendah, 37,4'C, dokter mengarahkan untuk cek darah dulu agar tau penyakit spesifiknya. Nah, aku sudah menjelaskan kalau muti belum masuk makanan dengan benar kurang lebih 24 jam. Terus vet nya bilang harus liat poop nya dulu. aku like, hey?? gimana ceritanya ada makhluk hidup gak makan tapi ngeluarin kotoran? aku melihat vet tidak menangkap penjelasan dariku bahkan setelah aku menyampaikan bahwa kondisiku sendiri kurang baik sehingga sulit menangkap penjelasan vet yang panjang tapi muter-muter pada pemeriksaan darah. Tapi ia tidak langsung transparan mengatakan berapa biaya untuk setiap perlakuan. Mungkin ini menjadi pengalamanku di vet orang have dan haven't, kali ya.

Muti juga digonyoh-gonyoh untuk menunjukkan dia dehidrasi. Telinganya dibolak-balik untuk menunjukkan di anemia. Aku tau dia dalam kondisi dehidrasi. Aku tau badannya dingin. Itu sebabnya aku membawanya ke vet. Aku ingin dia diinfus dulu, setelah beberapa jam baru bisa diagnosanya dilanjutkan. Mana sampai hati aku di kondisi muti lemas begitu harus di cucuk-cucuk dan digonyoh begitu untuk mengambil sampel darah. Lalu vet bersikeras kalau mau diinfus maka harus rawat inap. Mereka vet baru, wajar aku gak bisa naruh kepercayaan di sana. Dan juga kalau muti mati di vet itu aku pasti akan lebih menyalahkan vet tersebut.

Bagi yang memelihara kucing, pasti pernah mengalami kucingnya kena virus. Drop dengan cepat dan hanya semangat hidupnya sendiri yang bisa menentukan ia akan selamat atau tidak. Muti sudah direncanakan vaksin, tapi setelah semua drama operasi-operasi ini selesai. Sayangnya, penyakit datang tak melihat kalender.

Aku tak mau membahas persoalan bertele-tele ini. Akupun pulang setelah membayar untuk Jasa Konsultasi Dokter, Dasar, (Muti, 1 Jam) 100,000.00, Inj Vitamin 70,000.00, Suplemen Penambah Darah & Stamina 20ml  55,000.00, dan Obat Racik 80,000.00. Ini sesuai yang tertera di invoice. Jujur, kaget. Cuma kembali lagi, aku sudah lemas, setiap kali mau ngomong mataku langsung berlinang air mata saking nyerinya tanganku. Aku baru menyadari bahwa mereka tidak menimbang muti dan ditulis umur muti +/- 1 tahun. 

Aku membawa muti dan mencari cairan elektrolit  yang diresepkan oleh vet karena tidak tersedia disana.

Aku pulang dan fokus ngurusin muti. cekokin air minum, obat lambung, 30 menit kemudian aku kasih makan. Karena tadi sudah suntik vitamin, jadi nasih obatnya jarak-jarak 3-4 jam lah. Nah, setelah aku cekokin suplemen penambah darah dan stamina, muti kejang. Jantungnya berdebar kencang sekali. Aku menyoroti matanya, pupilnya bereaksi lambat. Tak lama jantungnya melemah dan... berhenti. Aku soroti matanya lagi, tak ada lagi respon disana. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku langsung mengabari vet-vet terkait. drh malik dan drh azmi langsung merespon, sedangkan vet baru itu... nothing. Tangisku pecah, merasa kalau andilku salah memilih vet. 

Akhirnya aku menguburkan muti dengan tngan yang nyeri ini setelah maghrib. Tak lama, rintik hujan menyapa. 1 jam setelah aku mengubur muti, aku baru mendapatkan balasan dari vet baru itu. Balasannya : [20:19, 09/09/2026] : owh muti tadi ya kak, [20:20, 09/09/2026] : turut berduka cita ya kak atas kepergian muti🥀[20:20, 09/09/2026] : berarti memang mutinya ke virus ka jika dropnya secepat itu [20:21, 09/09/2026] kalau ini hanya suplemen penambah darah si kak.

Aku merasa bersalah membanding-bandingkan pelayanan dan alur komunikasi antar vet didalam tulisan ini, masalahnya itulah yang aku rasakan saat kucingku harus melewati dua vet berbeda.

Aku sedih, tapi tetap akan mengambil pelajaran dan hikmah dari setiap peristiwa. Hal ini juga menjadi teguran bagiku betapa berartinya respon kata-kata. 

Kalau drh Azmi bilang, "Kok tiba2 dia kak kenapa dia kak?" Yah ternyata begitulah kisahnya si kucing yang muncul tiba-tiba, perginya pun tiba-tiba. Seperti seolah mengingatkan kembali kepergian Ayah yang juga tiba-tiba bagi kami semua.

"4 bulan 10 hari setelah ayah pergi ya.", ujar ibuku saat melihat muti sudah gak ada. Mungkin, ini juga cara mengingatkan agar aku tak lalai dalam doa-doa untuk Ayah. Duh, air mata ini asin sekali.

Bye muti. See yaaa at rainbow bridge <3 

Posting Komentar

0 Komentar