Meyakinkan sekali judulnya buat naik diportal berita ya. Tapi lagi-lagi aku yang masih lututnya masih goyang kanan kiri jika dikritik belum berani melayangkan cerita ku kali ini ke media mainstream, hehehe. Soalnya kalau di blog sendiri kan ga ada yang bisa kritik tulisan ku 😛 pokoknya apa ide dalam kepalaku bisa sampai ke pembaca melalui media ini. Dan begitulah salah satu dari sekian banyak hal baik yang bisa ku tangkap dari kak Regina Safri. Hah, maksudnya gimana? oke aku jelasin lewat cerita hari ini ya.



Rabu, 5 Juni 2024, sekitar pukul setengah tiga sore aku bergerak dari fakultas mipa menuju fakultas Fisip USU. Setelah dari beberapa hari sebelumnya aku sudah sounding kepada dosen pembimbingku untuk hadir dalam acara ini. "Mana flyernya?" tanya dosenku. "belum ada bu, nanti saya share langsung kalau sudah ada." jawabku. "Kamu yakin yang ngadain acaranya fisip? di hari lingkungan hidup loh itu. Bahkan kita gaada peringatan apa-apa dari jurusan." Ujar dosenku menyelidik seolah aku lagi mencari celah untuk nyari 'libur' dari pengerjaan tugas akhir. Aku hanya membalas dengan cengiran, karena memang itu faktanya, jurusanku yang notabene lekat dengan 'lingkungan' justru tidak merespon peringatan seremonial ini.

Sebelumnya Yuke, Pimumnya Pijar, mengontakku dari wa untuk bertanya berapa 'massa' yang aku bawa. Sebagai spesialis pendatang huru-hara, kali ini aku cuma bisa menjanjikan sekitar 10 orang saja dari ku. Meskipun nakal nya aku yang sudah mencotek rundown memberi kabar pada teman-teman bahwa acara inti baru dimulai pukul 14.40.

Saat aku sampai bersama salah satu twin flame nya aku, Lulu, aku cukup terkesima melihat sebagian besar teman-teman yang hadir adalah orang-orang dari kantor lamaku, OIC. Memang, sebagian besar yang menjadi bahan buku kak Regina kali ini didapat saat mengikuti aktivitas teman-teman OIC terutama dari tim HOCRU. Fasilitator acara pun, Voice of Forest juga menayangkan dokumneter dari Halaban yang mengangkat kegiatan tim Risetnya OIC juga. Baik film dan buku yang ditampilkan dalam acara hari ini seperti dokumentasi eksklusif untuk OIC, hahaha.

Kantong pertemanan di dalam hatiku rasanya penuh sekali hari ini.

Acara dimulai, dibuka oleh perwakilan dekanat fisip. Lanjut oleh bang Yugo untuk memoderasi diskusi bedah buku Kak Regina Safri dan Bang Binsar Bakkara sebagai pembanding.

Buku 'Hope'merupakan buku ke tujuh daari keseluruhan buku yang pernah ditulis oleh kak Rere. Dan buku ketiga untuk yang bertemakan konservasi. Buku pertamanya, 'orangutan' terbit apada tahun 2012, lalu Before too late tahun 2019.

Buku 'Hope' sendiri berisi foto-foto yang diambil selama kak Rere melakukan Thesisnya. Mengikuti perjalanan tim HOCRU (Human orangutan conflict rescue unit) nya OIC (Orangutan information centre) membuat kak Rere banyak menemukan teman-teman baru yang berkiprah di dunia konservasi. HOCRU sendiri sebenarnya menangani aduan masyarakat saat terjadi konflik satwa dan manusia seperti Orangutan yang masuk ke kebun. Dalam prosesnya, konflik juga tidak terlepas dari jaringan perdangan satwa. Maka, kak Rere banyak sekali mengabadikan kisah pilu konservasi dalam buku ini. Salah satunya adalah kisah Hope yang menjadi judul buku ini. Aduh kalau cerita soal orangutan Hope, hati kecil ku yang rapuh ini langsung mau menangis bawaannya... Kapan-kapan kita ceritakan soal Hope di blog ini ya kalau aku sanggup...

Buku Hope di bagi menjadi beberapa babak salah satunya adalah warisan budaya yang perlahan hilang. Sejak jaman dulu pasti banyak upaya dari masyarakat untuk menjaga keharmonisan antara satwa dan manusia. Saat ini cerita-cerita itu masih ada beredar namun perlahan mulai ditinggalkan dan dilupakan.

Di bab lainnya, juga memunculkan beberapa sosok yang luar biasa seperti dokter hewan perempuan yang sedang hamil saat melaksanakan tugas lapangan. Ada juga kisah ranger dari FKL yang diserang oleh harimau liar saat sedang bertugas.

bang Binsar mengapresiasi upaya kak rere saat menanggapi buku Hope ini. Sebenarnya sejak dulu banyak wartawan menyampaikan terkait isu lingkungan namun kurang mendapatkan ruang karena peminatnya sangat kecil. Hal ini ditambah juga dengan pengetahuan dari wartawan yang sering sekali tentu tidak memiliki teori-teori dasar untuk mendukung dugaan yang ditemukan saat melakukan reportasi.

Kolaborasi antara pewarta dan akademisi sungguh sangat mendukung upaya untuk menyampaikan kisah ini kepada masyarakat luas. 

Karena sering kali orang-orang bukannya tidak memiliki empati, mereka hanya belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Kak Rere antusias sekali ngobrolin bukunya di depan 100 lebih peserta yang hadir. Dan sama, peserta yang hadir juga antusias saat forum diskusi di buka. Kak Rachmi, seniorku sekaligus teman komunitas juga sangat antusias sekali saat mengenal kak Rere. Aku senang sekali bisa mengajaknya. Karena saat pertama kali bertemu kak Rere juga rasanya jiwa ingin belajar dan menghasilkan karya ku terpatik kembali.

Apalagi aku tau betul bahwa perjalanan kak Rere sudah panjang sekali untuk mencapai tahap ini. Dih kayak kenal banget ama kak Rere. Hahaha aku memang kalau udah senang sama orangnya akan aku kepoin sampai akar-akarnya sih wkwk. Selain memang Kak Rere juga sangat terbuka untuk memberi inspirasi bagi tunas-tunas muda di ranah konservasi ini. eak eak eaak 

Jadi meski di buku kak Rere mengatakan pesimis dengan masa depan konservasi di Indonesia, aku melihat kak Rere tap menaruh harapan kepada pembacanya melalui karya-karya yang ia luncurkan.

Gitu aja sih cerita ku hari ini, maaf kalau ada yang kemakan judul dan ternyata tulisannya personal banget hehe.