Berjayalah Fran Jaya!

by - Rabu, September 22, 2021

Tulisan ini untuk salah satu pembaca blogku yang bertemu di dunia nyata. Dan rangkuman sudut pandangku tentangnya selama beberapa tahun.

Beberapa tahun silam sebelum ujian SBMPTN 2016, seseorang mengomentari salah satu postingan blogku yang berjudul "Jurusan Biologi murni, mau jadi apa sih?" Itu postingan yang aku buat di 2014 saat aku senang-senangnya menjadi maba Biologi USU 2014 semester pertama. Dan setiap tahunnya, postingan itu mengundang banyak orang untuk bertanya padaku baik via email, line (sekarang udah ga pakai lagi), Facebook, whatsapp dan sekarang dari instagram.

Komentar di postingan blog tentu tak setiap hari aku cek. Lalu muncul pesan dari G+ yang saat itu belum ditutup. Belum selesai aku memikirkan jawaban pesan itu, muncul lagi pesan di akun Facebook ku. Dari orang yang sama, dengan konteks pertanyaan yang sama.

Jujur saat itu aku kesal, 'kok mendesak sekali sih, memangnya aku humas jurusan biologi harus cepat membalas pesannya?' Jadi aku membalas lewat facebook saja. Kutunggu  tak kunjung ada balasan. Ah, ngapain aku balas cepat-cepat. Pikirku.

Besoknya, aku baru mendapat balasan. Dan aku mendapat penjelasan bahwa ternyata dia mengirim pesan padaku dari warnet. Pantas saja mendesak. Aku pun berusaha fast respon saat dia mengirim pesan lagi.

Hari pengumuman SBMPTN 2016 tiba. Qadarullah, dia lulus di kampus dan jurusan yang sama dengan ku. Saat mendapat kabar itu, aku sedikit kaget karena artinya dia menjadi adik asuh ku. Sebuah budaya di Biologi USU, stambuk baru akan diayomi oleh stambuk dua tahun di atasnya. Mudahnya, stambuk ganjil diasuh oleh senior tahun ganjil dan sebaliknya. Aku agak keki jumpa kenalan dunia maya ke dunia nyata, karena aku takut ekspetasi personalitiku di blog dengan aslinya berbeda. Ya, aku yang dulu se overthinking itu.

Gara-gara dia cuma bisa menghubungiku (yang paling mudah) lewat pesan facebook, aku jadi rajin mengecek akun facebook ku saat itu. Dari situ, aku banyak sekali dapat cerita latar belakang hidup nya sebelum masuk dunia biologi. Dan disini akan aku ceritakan seluruh perubahannya dari awal kuliah sampai tamat.

Saat dia orientasi, aku masih liburan. Aku ingat dia bertanya, "kak, aku punya dana sekian. Baiknya beli handphone atau laptop, ya?" Aku bertanya pada orangtuaku dulu baiknya menjawab apa. Ayahku sampai kesal kok aku ngurusin orang banget sih - -"

Lalu aku jawab bahwa lebih butuh handphone, karena kalau laptop nanti bisa dipinjamkan. Dan memang semester 1-2 belum butuh laporan yang dicetak. Hampir semua laporan praktikum tulis tangan. Begitu pula tugas kuliah. Belum terlalu butuh laptop.

Saat dia punya handphone, dia langsung kabarin aku untuk memberi tahu pin bbm nya. Hahaha.

Kami pertama kali bertemu di dunia nyata saat perkenalan adik asuh dan kakak asuh di laboratorium tumbuhan. Seperti biasa, aku anaknya memang sok sombong gitu. Pura-pura gak kenal padahal perhatian. Tsundere gitu. Eaaa~ ya maap mentalnya masih mental bocah.

Semester pertamanya dia, aku ingat betapa paniknya dia untuk memulai praktikum. Sempat satu kali kelompoknya kehilangan atau meninggalkan alat praktikumnya aku lupa, dan saat itu aku mengantarnya untuk membeli satu set peralatan kelompok. Lalu saat kelompoknya tidak punya kamera digital, dia juga menghubungiku untuk meminjam kamera digitalku. Merepotkan? Ya. tapi aku memang tipikal orang yang senang dimintatolongi.

Dia ikut UKMI (Unit Kegiatan Mahasiswa Islam) di kampus. Aku agak kaget, karena waktu itu dia bilang enggak terlalu mengerti agama. Sampai-sampai saat aku menjawab salamnya dengan 'alaikumussalam' dia bingung dan ketakutan. 

Selain itu, sebelum pendaftaran ulang kuliah, dia bertanya padaku apa bisa sambil bekerja. Saat itu dia bekerja di rumah makan, sebelumnya lagi dia juga melakukan beberapa pekerjaan kasar. Aku menertawakannya karena itu sangat engga mungkin di biologi USU untuk bisa kerja (part time) sambil kuliah. apalagi dia laki-laki. yang jurusan biologi pasti mengerti kenapa. Jadi aku bilang paling cari duit tambahannya dari jual makanan, atau ikut beasiswa. 

Dan dia beneran dong jual bakso goreng dan aksesoris handphone setiap ke kampus. Yang bakso goreng biasanya akan jajakan di kelas-kelas pagi. Sangat amat membantu tipikal mahasiswa kayak aku yang sering terlambat ngampus dan lupa sarapan.

Semester dua dia, dia lolos di program beasiswa yang sama denganku. Dia ga bisa ngajukan bidikmisi karena ini adalah tahun ketiganya untuk bisa kuliah di kampus negeri. Tahun pertamanya dia lulus SNMPTN di UNRI kalau aku ga salah, dan tahun kedua dia lulus lagi dari SBMPTN. Tapi saat itu kondisi keluarganya benar-benar ga memungkinkan dia untuk kuliah. Yup, dia sebenarnya lulusan 2014 tapi akhirnya baru punya dana untuk memulai kuliah di 2016. Jadi dia sebaya denganku. bahkan lebih tua beberapa bulan.

Semester tiga nya dia, aku menjadi asisten lab nya. Menjadi asisten yang galak dan menyebalkan menjadi salah satu image yang aku suka selama masa perkuliahan (iya iya aku tau ini salah). Tak terkecuali untuk dia. Aku tak membeda-bedakan praktikan yang aku galakin.

Lanjut ke semester-semester berikutnya, aku sudah mulai sibuk penelitian dan tugas akhir. Dia sudah tak lagi merepotkanku. Eh ada juga sih saat dia rajin meminta KRS ku setiap semester untuk melihat matkul yang ku ambil. Dia juga mengikuti banyak kegiatan kampus, bahkan lolos di beberapa beasiswa lain. Kalau aku ga salah, dia dapat beasiswa KSE dan juga lulus di Rumah Kepemimpinan yang membuatnya mendapatkan kos gratis dekat kampus. Ya selama ini dia yang rumahnya di Belawan gak ngekos.

Tahun 2018, aku lolos PIMNAS ke jogja. Dia bilang dia juga mau. Eh, 2019 dia lolos PIMNAS ke Bali dong! menyebalkaaan hahaha. dan 2020 dia lolos PIMNAS lagi. sayangnya sudah korona sehingga hanya bisa virtual. Ya ampun, anak ini benar-benar gak mau kalah dari ku.

Lalu tiba saat aku punya sedikit masalah di tugas akhirku, saat itu mentalku benar-benar breakdance. Kebetulan (gak, ga kebetulan) Dosen pembimbing ku sama dengannya. Dia memberitahuku bahwa doping kami sudah mencari ku. Di saat itu aku ingat, kalau aku larut dengan masalah ini, aku malu pada dia yang berjuang keras sepanjang masa perkuliahan ini.

Aku tamat dan melanjutkan hidup. Oh iya, dia penelitiannya di tempat yang sama aku penelitian. meskipun aku sudah selesai lebih dulu. Bener-bener deh... 

dan di saat-saat semester akhirnya pun dia bekerja di salah satu restoran tempat wisata. 

Akhirnya, 10 Februari 2021 dia sidang. Aku memberi selamat melalui pesan WA dari pelosok hutan. Lalu dia Wisuda Juni 2021. (dan aku baru tau belakangan kalau namaku ditaruh di ucapan terimakasih dalam skripsinya hehehe) Aku mencoba menemuinya di sela-sela waktuku yang sok sibuk dengan mendatangi tempat usaha street food yang ia buat bersama temannya. Sayang, sampai ia meninggalkan kota Medan, kami belum sempat ketemu.

8 September kemarin dia berangkat ke jakarta untuk pelatihan training manager di salah satu perusahaan  milik Sandiaga Uno. Itupun aku tau satu hari sebelum dia berangkat. Kesal sekali rasanya. dan pesan terakhir di room chat WA kami saat ini adalah balasan pesan dari dia,

"Semua berlalu begitu cepat kan kak wkwk"

Iya, aku juga merasa semua begitu cepat untuk melihat perjuangan seseorang yang selama kurang lebih 5 tahun menjadi cambuk untuk diriku sendiri agar terus mau belajar dengan semua previleged yang aku punya.

Entah kabar bahagia apalagi nanti yang aku dapat darinya. Dan pastinya selalu aku tunggu.

Akhirul kalam, Berjayalah Fran Jaya, S.Si !


NB: Aku agak haru saat melihat semua komunikasiku dari awal dengan dia. Sekarang aku juga menunggu kelulusan dua orang lagi yang rajin menghubungiku soal perkuliahan di biologi. Bedanya mereka di Universitas pulau yang lain.


You May Also Like

3 komentar

  1. Terima kasih mbak sudah berbagi cerita, Fran so glad i got to know you.. Berjayalah Fran

    BalasHapus
  2. Jaya selalu bg fran, orang baik panutan semua orang :)

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah.. berjaya la fran

    BalasHapus

Your word can change the world! you can be left a comment on my post :)