Lebaran 1440 H yang berbeda

by - Senin, Juni 10, 2019

Hai, gimana lebarannya? sudah langsung sakit karena kebanyakan makan es dan minum rendang? eh kebalik ya hahahaha. Kalau aku langsung drop memang, sampai sekarang masih flu dan batuk. rasanya tenggorokan pengen aku garuk langsung kedalem pake tangan kayak yang di iklan permen jaman dulu.



Lebaran, adalah momen paling sakral di keluarga besar kami. Biasanya paling telat kami berusaha untuk dapat sahur dan berbuka di kampung halaman, rumah nenek. Mobil-mobil akan berjejer memenuhi halaman rumah nenek menutupi depan rumah. Saling meledek ke sepupu-sepupu sembari menyalami, mengguggurkan dosa. 


Lalu, menaruh tas-tas yang berisi baju baru untuk di pakai hari raya di kamar bersama. Pakaian di taruh satu kamar sementara kami semua akan tidur di luar. Bukan, bukan di luar rumah. Kami akan tidur dengan memenuhi ruang tivi samapi ruang tamu. Dan juga lantai dua akan penuh dengan bocah-bocah yang akan ketiduran saat menonton abang-abangnya main PS. 

Sementara yang perempuan beranjak besar, akan kedapur dan melihat apa yang bisa di kerjain. kalau udah mentok kali semua udah ada yang megang kerjaan, maka nyupir adalah pilihan pekerjaan terakhir. Nyupir alias nyuci piring hahaha. 

Dan tugasku setiap tahun biasa bagian mengisi ketupat yang sudha di siapkan sebelumnya oleh nenek. Nenek akan sedikit mengomeliku kalau ketupatnya kepenuhan atau terlalu sedikit ku isi. "tiga perempat mahdiyyah, ini kalau di pencet pakai jempol masih kosong" omel nenek kepadaku. sementara aku hanya ngeles karena aku ingin ketupatnya jadi lebih banyak. Padahal bukannya banyak yang didapat, tapi bisa jadi tengahnya tidak matang merata. 

Malam semakin larut, lalu kami akan sepupu-sepupu yang mulai dewasa akan saling bercengkrama menanyakan kabar masing-masing atau sekedar mendiskusikan fenomena yang sedang dibicarakan oleh masyakarat. Misal waktu jaman flat earth heboh di bicarakan haha. Lalu tulang (paman dari pihak ibu dalam bahasa batak) akan datang dan memberi kami penerangan akan diskusi kami yang tak sudah-sudah.

dini hari, ibu-ibu akan berebut gosokan untuk menyetrika jilbab dan baju baru satu keluarganya. Kadang ada juga yang sudah menyetrika di malam hari. Anak-anak akan berebut kamar mandi. Ah, sampai umur berapa aku masih gabung mandi dengan yang lain ya? haha.

Lalu kami akan memakai baju baru dengan wewangian, sarapan lontong sayur dan rendang serta minum secangkir teh manis sembari menonton berita hari raya berbagai tempat di televisi. Dan tinggal menunggu ada yang di omeli karena baju barunya kecipratan kuah sayur.

Pukul 07.00 semua sudah rapi meski kadang tidak tepat waktu juga, untuk berbaris dan sungkeman seluruh keluarga. Kami cucu-cucu akan menyalam dan mencium pipi nenek sembari medoakan agar nenek sehat selalu. Usai salam-salaman, kami akan masuk ke mobil mana saja yang belum penuh untuk menuju lapangan simarito, siantar. 

Parkir di kantor pos yang menjadi parkiran langganan keluarga kami setiap tahunnya. entah siapa yang mengklaim ini haha. lalu menurunkan kursi roda nenek. Dan jatah ku, mendorong nenek ke tanah lapang di temani ibuku. Kain panjang di bentang sebagai alas sajadah dan mengumandangkan takbir menunggu sholat di mulai. Kadang, ada drama ibuku yang mengomel karena ada yang mengembangkan sajadahnya tak sesuai kiblat.

Usai sholat, orang-orang yang mengenal keluarga kami akan mengerumuni nenek untuk sungkeman. setelah itu kami akan foto keluarga besar di bundaran lapangan atau di depan rumah nenek. Dan saatnya bagi-bagi THR yang paling kami suka. 

setelahnya, jalan untuk silaturahmi.

--------

Itu cerita yang bertahan sampai tahun lalu. Sampai 1439H

Lebaran kali ini, aku terbangun setelah adzan shubuh berkumandang sekitar setengah jam. Gorden-gorden belum terpasang karena baru kemarin di cuci setelah tak ada laundry yang menerima orderan lagi menjelang lebaran. Aku mandi tanpa wewangian, yah mandi normal biasa saja. lalu memakai baju yang telah di gosokkan kakakku. Ibuku masih sibuk di dapur untuk menghidangkan makanan. Aku sarapan rendang yang sebenarnya lebih enak dari yang di siantar karena di masak amak di fresto. jadi lebih lembut dan gampang hancur aja gitu. Minum susu dan makan camilan lokum yang di bawa kakakku. Tapi rasanya berbeda.

Lalu saatnya sungkeman aku merajuk parah sama ayahku. Semua terasa berbeda ramadhan ini. Seolah tak ada yang perduli bahwa Lebaran ini saat berbeda. Seolah. Tapi aku yakin semuanya merasakan hal yang sama.

Mengenakan mukena baru, kami sholat di mesjid yang paling dekat rumah.Tak ada lagi kursi roda yang kudorong. Terlambat. Ketinggalan 3 Takbir. Lalu pulangnya kami memutar jauh untuk mendapatkan sunnah saat melaksanakan sholat ied. Beberapa nenek-nenek menawari kami makan lontong di rumahnya, tapi tidak kami penuhi undangannya. Maaf ya nek.

Kami langsung menuju rumah Tulang yang sedang mengalami musibah patah kaki di komplek mentang. Hanya ada tiga keluarga yang berkumpul di lebaran hari pertama. Tak ada yang menarik. Kami hanya main game bareng dan nonton youtube di smart tv milik tulang. segala kemewahan masih terasa hampa.

Hari kedua, seluruh keluarga berkumpul di rumah tulang yang di menteng. Dari Siantar, Aceh, Binjai dan Marjandi semua berkumpul. Kecuali sepupu tertua kami yang pergi ke Padang bersama keluarga Istrinya. Kami berbagi cerita, bagi-bagi THR dan ini menjadi momen pertama istri abang sepupu yang nomer dua bergabung dalam aliansi kami. Para orangtua memulai acara yang kali ini kami di libatkan karena untuk menjelaskan bahwa setelah tak ada rumah yang kami tuju, kami harus tetap berkumpul dan bersilaturahmi. 
Para orangtua saling mengungkapkan perasaannya dan memohon maaf untuk keluarga kecilnya kepada keluarga besar. Dan disitu aku sadar, semua merasa kehilangan. kehilangan yang sangat besar. terutama keluarga siantar yang selalu menyambut kami dengan tangan terbuka. yang selalu sudah belanja besar jauh sebelum lebaran. Yang melepaskan kami di hari ketiga satu persatu untuk kembali ke rumah masing-masing.

Tahun berikutnya, bagaimana? 

Kami para anak masih tetap ikut keputusan orangtua. Dirumah siapa tak tahu. Yang pasti, rasa hangat dari nenek dan atok setipa lebaran takkan kami rasakan lagi.

Al-fathihah untuk Nenek Zubaidah Sinambela/Bakkara  dan Atok Abdul Hamid Simbolon. Salam sayang dari cucu yang selalu merindu ke Pattimura 74.

You May Also Like

1 komentar

  1. tiap lebaran memang punya momen yang haru, sebuah kepulangan, sebuah pertemuan, hadirnya keluarga baru dan banyak hal lainnya.

    selamat berLEBARan

    BalasHapus

You word can change the world! you can left a comment on my post :)