Minggu, 12 Juni 2016

Toleransi-intoleransi di Indonesia, Wajarkah?

Ehem. Jadi postingan kali ini Iyah buka dengan...


Pasti pada tau dengan kasus diatas kan? Warung nasi dirazia. Sebelumnya Iyah terlebih dulu minta maaf bila tulisan ini akan ada pro kontra. 

Sewaktu iyah kecil, dalam ingatan iyah kalau bulan puasa itu yang di razia tempat esek-esek, tempat orang mabok-mabok. intinya, karena Ramadhan adalah bulan dimana setan-setan di kurung, maka orang-orang seperti itu sangat layak untuk di kurung selama bulan Ramadhan. Itu adalah pemikiran iyah saat kecil. sekarang ga perlu di bahas lagi dong ya, udah pada ngerti kan artinya setan dikurung? its mean, saat bulan Ramadham hawa nafsu lo bisa lo kendaliin sendiri. Karena setan bergerak dari hawa nafsu yang tak terkendali. oke sip.

Sekarang Iyah sudah kuliah. Satu hari sebelum Ramadhan, Iyah dan beberapa teman-teman mendatangi warung nasi yang cukup sering kami sambangi untuk membeli makan siang. Tak perlu di sensor, warung mami namanya. Mami yang akrab kami sapa mempromosikan bahwa selama bulan Ramadhan Warung Mami akan buka 24 jam. Artinya, siang bolong juga buka. Mami sangat semangat dengan menu-menu yang akan di tawarkannya saat sahur dan beliau juga menghargai yang gak puasa. "Kasian kalau warung nasi banyak yang tutup, anak-anak kos yang ga puasa cari makan dimana?" begitu kata mami. Ini bukan soal agama, karena kan ga semua orang islam juga biasa puasa full 30 hari. apalagi yang cewek. tau dong ya, ada libur puasanya sekitar seminggu. Lantas saat puasa doi jadi gak makan siang? Kalau gak puasa tapi kita gak nafkahi jatah perut itu artinya kita dzolim sama tubuh sendiri.

Masalahnya, cerita saling harga menghargai antara yang puasa dengan yang tidak. Iyah punya temen yang otaknya rada liberal, nyeleneh dan mungkin kena bipolar disorder. Tiba-tiba, iyah ga sengaja liat dia update status agak normal dan bisa iyah terima.

Sedikit menaikkan topik "hormat menghormati" di Bulan Ramadhan.

Pandanganku:
Kondisi di jawa memang lebih brutal daripada sumatera . Di Jawa yang puasa manjanya g ketolong, yang gak puasa tertindas gak ketolongan. Boleh saja kita yang puasa tersinggung dengan bukanya warung makan di siang bolong. Tapi ingat, kita g hidup sendirian, banyak orang yang tidak puasa (non muslim) mau membeli makan, masak iya harus nyari restoran yang buka hanya untuk makan siang? Ya restoran. Karena restoran boleh buka siang bolong dan gak kena razia satpol pp dan tidak berlaku oleh perda kyk yg di Serang itu. 
Perda yang inhumane itu sangat tak sesuai. Kalau memang perda tegas dan walikota/gubernur/yang sejenisnya tegas, maka dipastikan tak ada warung, kedai, restoran, kafe,dll yang buka di daerah itu.
Ya mau ga mau yang gak puasa juga harus menahan gak makan sama halnya yang puasa. 
Aku juga gak pernah dengar kisah" seperti yang biasa diungkit orang" sok muslim mengenai tindakan intoleran seperti ini.
Apakah ini saling menghormati?
Jangan sampai menghilangkan esensi puasa. Menahan diri dari segala godaan yang dapat membatalkan puasa. Kalau orang yang iman dan agamanya kuat, aku yakin dia akan kuat nahan lapar dan dahaganya sehingga dia gak mengkek" kayak orang lemah mental di sana itu.



Intinya, orang yang puasa digambarkan manja banget gitu. Ngeliat gorden warung makan kebuka bisa langsung makhruh gitu puasanya?  Jujur aja, dibandingkan ngeliat rumah makan padang yang di buka lebar-lebar, iyah lebih tergoda dengan yang di tutup rapat-rapat tapi aroma nge goreng ayamnya menyeruak sampai kejalanan.

Hei, hei, hei, apa disini yah mencoba menyudutkan hukum dari pemerintah yang memihak islam? dan menyalahkan?
Enggak, sama sekali enggak bila hal tersebut mendukung islam. Masalahnya, cerita toleransi-intoleransi bukan begini caranya. Di sumatera utara, banyak yang menjual babi panggang. Kalau saat puasa Warung Babi panggang di buka, dan disodorin diskon gede-gedean misalnya, apa ada umat islam yang mau singgah? enggak kan? karena tau itu haram.

Udah bagus dari dulu setiap warung makan selalu di tutupi gorden lebar-lebar. Gaada masalah. Eh di Video yang jadi viral ini dikatakan "Warung ini diketahui melayani konsumen saat siang hari saat bulan ramadhan. Terbukti dengan dua piring beserta dua gelas minuman yang masih berada di atas meja" gitu kata naratornya.

Padahal di video itu digambarkan kalau warung itu udah ditutup gorden. Wow, kalo ini di terapin di sumatera bisa kena maag semua anak perempuan yang lagi halangan karena ga bisa beli makan siang. "Masak sendiri lah kalau mau makan pas siang hari" emang semua kos ngijinin pake kompor? atau "Kalau beli nasi pas bulan puasa jangan makan di warungnya dong." Etdah, Iyah bukan cari alasan ya. Misal ente harus kerja selama bulan puasa, tapi lagi ga bisa puasa (Bisa karena sakit atau sebagainya). Terus mau makan siang. dibanding beli nasi bungkus dan bawa ke tempat kerja dan makan dengan sembunyi-sembunyi mending makan di warung nasinya yang udah ditutup gorden kan?"

O iya, si ibu penjual makanan keren juga ya. tetep puasa meski liat orang makan dengan lahapnya. Sebagai seorang blogger iyah mendeteksi adanya 'tangkapan' bagus bagi media karena muka si ibu juga sedih banget. Dan tada, videonya jadi viral. Ga usah sensi sama dugaan iyah ini, namanya juga media, suka suka mau nulis apa. Lagian Ibu yang di video kan akhirnya dapat bantuan untuk menutupi kerugian dia saat itu. Sedih ya, baru siap masak yang bermodalkan ratusan ribu harus di grebek pas baru dapet untung 6000.
Jadi bagi yang ga puasa harap memahami yang puasa ya. Di pahamin aja gimana rasanya puasa. Ga usah segen kalau harus ke gep minum atau makan di depan yang puasa. Bilang aja maaf, terus lanjutin makan atau minumnya. Tapi abis itu jangan pasang pose menggoda. ditengah terik panas matahari minum es lengkong sambil nyeruput kuat. itu kan ngajak ribut namanya (true story).

Sekian deh cuap-cuap iyah yang ga penting ini. Bagaimana pendapat teman-teman soal ini? komentarnya yaa

4 komentar:

  1. Yep, yang nyeruput es kuat-kuat itu true story banget. Biasanya terjadi di terminal XD
    di terminal biasanya ada aja yang suka jahil. tapi untungnya daku kuat menahan godaan mereka yang iseng itu wkwkwk
    kembali ke iman kita masing-masing aja. Walaupun warung makan terbuka di siang hari, kalau iman kitanya kuat gak akan tergoda, kok. hehehe

    BalasHapus
  2. masalah iman memang masing-masing, kalau tahu arti kata menghargai pastilah tahu seperti di bali walau kita muslim kalau hari nyepi ga boleh keluar untuk aktifitas itu namanya menghargai jadisama saja hargai yg lagi puasa kalo kamu hidup di mayoritas muslim,kecuali hidup di negara komunis..

    BalasHapus
  3. kata siapa yang tidak puasa boleh seenaknya makan,perlu belajar lagi tuh..
    sudah tahu kalau warung buka banyak orangnya pasti lagi makan masa bab..
    meski di tutupi hordeng tetep orang tahu kalo d dalam ada yang makan..
    ibu yang haid aja ga boleh ketahuan anaknya klo lg sedang tidak puasa dan makan seenaknya.. klo ga setuju ga usah hidup d negara mayoritas muslim

    BalasHapus
  4. klo anda muslim meskipum ga puasa usahakan sarapan d rumah dan jangan sesekali makan di luar walaupun tertutup jadi tetep harus ikut menahan lapar itu yang baik..

    BalasHapus

You word can change the world! you can left a comment on my post :)

Find Me On G+

Mahdiyyah Ardhina (2016). Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me :)

Google+ Followers