Rabu, 30 September 2015

Sampai Kapan Terus Begini?

Dunia ini... Panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah mahabrata atau tragedi dari Yunani..
Setiap kita mendapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar
Ada peran pura-pura....
-Panggung Sandiwara, Achmad Albar

topeng
Pic : pixabay

Sampai Kapan Terus Begini?- Selain panggung sandiwara seperti kata orang, dunia hanyalah persinggahan. Layaknya tambang emas yang kita singgahi, pulang ke tanah sendiri membawa harta. Tambang ditinggalkan. hanya orang bodoh yang melewati tambang emas tanpa membawa emasnya...

Terkadang... kita terlalu sibuk mencari intan di tambang emas. Mencari kepuasan lain tanpa ingat apa tujuannya. Mencari, tanpa hasil yang konkrit. Memburu tanpa tahu mangsanya.

Waktu tak pernah cukup untuk nafsu. Mencari harta dan tahta, pahala? sudah lupa...

Terkadang, dunia memang terlalu melenakan, Masih ada hari esok. kata orang-orang. hari esok untuk siapa? mungkin bukan kita yang mendapat kesempatannya.

Tumbler
Pic: pixabay
Kita... hanyalah benda kecil diantara ciptaan-Nya, tidak masuk akal mungkin bila kita berpikir bagaimana memperhatikan jutaan manusia yang silih berganti. jutaan manusia yang lahir dan mati.

Mati... Habis itu kemana?

Karena akhir masa hanyalah dua, satu diantaranya tempat kita
Kelak ke surga dambaan kita atau ke neraka tempat segala siksa...
-Teman Sehati, Maidany

Syurga? dambaan? Hah! mendamba syurga, berharap syurga tapi... amalan kita sangat amat standart. sholat 5 waktu, udah itu saja. Sementara di luar sana banyak orang yang tertipu dengan iming-iming mati syahid, mereka tidak mengerti dasarnya tapi berani berusaha mencari amalan yang lebih dibanding yang lain. kita mencemoohnya, namun tidak belajar dari sana.

Sulitkan menambah sedikit kebaikan...?


Time watch
Pic : pixabay

Sulitkah, meluangkan waktu di pagi menjelang siang saat waktu masih nyantai untuk melaksanakan waktu Dhuha?

Sulitkah, di pertigaan malam selagi menunggu pertandingan luar negeri yang berbeda waktu dan bermunajat kepada-Nya?

Sulitkah, seusai maghrib sebelum makan malam sejenak kita membuka kitab mukjizat yang di bawa Rasulullah?

Sulitkah, sejenak menghetikan bermain gadget dan mendengarkan adzan yang berkumandang?

Sulitkah, berhenti membuang waktu dengan gaming dan sesekali duduk mendengarkan siraman rohani di majelis-majelis yang di sampaikan secara gratis?

tafakur munajat islam
pic: pixabay



Sulitkah, di perjalanan ke kantor atau kampus kita menyebut Asma-Nya? dari pada mengupat orang yang terburu-buru...

Sulitkah, masuk dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan dari kamar mandi?

Sulitkah, membiasakan membaca doa-doa yang di hafal sedari kanak-kanak?

Sulitkah, tersenyum kepada mereka yang kurang beruntung diluar sana? dari pada mendengus kesal karena mengganggu, mungkin?


Tuhan, memang tak terlihat. tapi Dia menunggu kita di Ars-Nya. Sudah layakkah kita kembali pada Sang Pencipta?
masjid senja islam mosque
pic :pixabay

*****
Tahun ini Iyah 19 tahun. 365 hari setelahnya genap 20 tahun...
Sampai Kapan Terus Begini?

12 komentar:

  1. keserakahan manusia memang tiada ada batasnya

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. ga gitu juga, nanti salah salah masuk ke paret...

      Hapus
  3. Renungan Diri,,,, Mari kita Perbaiki diri ini,. :(

    BalasHapus
  4. kayaknya iyah lagi dilema iman nih, penuh dengan gejolak diri yang sedang merenungi keadaan

    BalasHapus
  5. dan seandainya pun itu memang sulit, semoga kita dimudahkan untuk melakukannya :)

    BalasHapus
  6. perenungan harus segera dimulai., :D

    BalasHapus

You word can change the world! you can left a comment on my post :)

Find Me On G+

Mahdiyyah Ardhina (2016). Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me :)

Google+ Followers