Tentang Masa Depan

by - Minggu, November 29, 2020

"Aku mau mundur, bang" ujar ku beberapa waktu yang lalu kepada atasanku. Lalu jawabannya adalah, "Pikirkan dulu yang matang, jangan mengambil keputusan saat marah. Ini baru saja atau sudah dipikirkan sejak lama?" tanyanya kembali.
"Kata Mamak... kalau sudah terasa menyakiti dan kehilangan tujuan yang buat bahagia disini, tinggalkan..."

-

Obrolan tidak terhenti sampai disitu, bersama dua rekan kantor terdekat kami mengobrol via telpon. Setelah sudah tidak pernah satu tim lagi (ya dulu juga satu tim gak resmi sih) aku kehilangan waktu untuk ngobrol ringan sembari berdiskusi. Mereka memberi tanggapan sama, aku disuruh bersabar dan posisiku sekarang adalah untuk mendukung atasanku. Jangan ikut menekan dan memberi beban dengan keegoan ku sendiri. aku akan kehilangan tujuan dan jati diri ku sementara, tambah mereka lagi. Aku menarik nafas panjang. dengan prinsip-prinsip dan idealisme yang masih ku pegang sebagai fresh graduate tentu ini menjadi bumerang yang terus menekan-nekan nurani diriku sendiri.

"Memangnya habis ini mau ngapain kalau enggak disini?" tanya mereka berdua.

Aku tertawa dan menjawab hal yang sudah pasti membuat kesal.

-

Biasanya, hari ahad akan kuhabiskan untuk mencuci semua baju, menyetrika lalu beristirahat penuh. karena hari kerja ku habiskan dilapangan bahkan kadang baru pulang saat weekend.
Kali ini, aku beristirahat cukup. cukup untuk diri, pikiran dan hati. Sejak jum'at aku sudah berada di rumah, di kamarku yang sangat nyaman. Aku kembali me-review sebenarnya apa yang mau aku lakukan selanjutnya dan apa tujuan ku diawal.

Sabtu, teman geng SD ku menikah. Aku dan 2 teman geng lainnya hadir. Yang satu sedang mengandung 7 bulan. Kami menghadiri pestanya januari lalu. Tentu saja pertanyaan "kapan" menjadi terlontar. Teman ku yang satu sedang Koas. Dia punya alasan untuk fokus studinya. Aku tersenyum dan menjawab, "Doakan saja tahun depan." Meski aku tau tahun depan tinggal 1 bulan lagi. Aku tidak mau menjauhkan doa-doa baik yang dikirimkan orang-orang padaku. Kapanpun itu, aku harus siap dan aku yakin Allah memberikan yang terbaik. "Kalau pertengahan tahun belum kelihatan hilalnya, aku lepar proposal ke organisasi aja ya." Imbuh ku setelah diceritakan bahwa temanku ini melalui proses ta'aruf selama 3 bulan.

-

Karena kemarin ada yang menyapa ku dan aku tidak kenal, aku mencoba mencari tau lewat facebook. Yup, akun sosial media yang akan membuka tabir masa lalu penuh dengan kepolosan. Yassaalam, lewat diberandaku lagi ternyata salah sau teman SMA di angkatan juga sudah menikah. Di bawahnya, peringatan 1 tahun meninggalnya salah satu teman sekelasku ketika SMA.
 
Tahun ini.. hampir imbang jumlah teman yang menikah dan orang yang ku kenal meninggal dunia. Mereka yang berpulang tak hanya karena dimakan usia, tapi juga di makan kejamnya virus, bakteri dan kekejaman sesama manusia. Umur, tidak ada yang tau.
-
Soal menikah, aku serius untuk mempersiapkannya. Dan untuk mati, aku juga akan lebih serius mempersiapkankannya. Sehingga... aku kembali berpikir tentang apa yang sedang ku kerjakan saat ini. Sudah cukup bermanfaatkah aku? apakah semua ini menjadi amalan? hanya Allah yang menentukan.. hanya Allah yang menentukan

Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi 'alaa diinik
(Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)

Tulisan ini di buat sebagai catatan dan intropeksi diri di kemudian hari.






(dan ketika aku sedang mengetik ini, masuk lagi kabar ada yang baru selesai lamaran, hahaha)

You May Also Like

0 komentar

Your word can change the world! you can be left a comment on my post :)