Senin, 25 Februari 2019

Konservasi Dalam Presepsi

Hai guys, kali ini saya kembali dengan bahasan yang sepertinya tidak dikehendaki oleh teman-teman sekalian! HAHAHA 

(Dan postingan ini akan menjadi postingan  blog yang melanggar banyak kaedah perbloggeran. No gambar, no seo seo, no click bait, yang penting saya nulis aja dulu)

Jadi untuk memanfaatkan ilmu yang saya miliki bukankah ada baiknya jika saya berbagi wawasan kepada teman-teman semua bukan? Semoga yang liat ini masih rajin baca. Karena kalau disuruh buat konten video, itu masih menjadi pro kontra sama saya.

Guys, sering gak sih kepikiran kasihan dengan hewan-hewan di kebun binatang? Kenapa harus di kurung, kenapa gak dikembalikan ke alam liar aja gitu ya kan. Atau kasian lihat hewan-hewan di daerah konflik manusia dan satwa yang harus berebut lahan makanan sehingga hewan banyak menyerang warga atau pun warga yang membunuhi hewan-hewan tersebut? Sedih memang, rasanya ingin menyalahkan manusia yang membunuh kok ga teredukasi gitu tapi balik lagi, kalau kamu yang di posisi terdesak harus tinggal di pinggir hutan karena gak punya tempat tinggal lain dan tiba-tiba kamu terpojok oleh harimau yang masuk ke rumah kamu apa kah masih mikirin 'ini hewan dilindungi ga ya?'

GUA MATI ATAU NI HEWAN YANG MATI

Begitulah realita hidup.

Jadi yang salah siapa? Mau jawab pemerintah karena lemahnya hukum atau regulasinya yang kurang baik? Lagi-lagi pemerintah disalahin :( (yaiyalah, masa salahnya tini wini biti!)

Tapi gak bisa juga kita paksa-paksa pemerintah ya. Sedih.

Akhirnya muncul lah para hero tak bersayap bernama LSM. Atau NGO. Atau komunitas pencinta bla.. bla.. bla.. gitu. Sayang, mereka yang berjuang tetap aja ada pro kontra dengan masyarakat. Mau mengedukasi, mempercepat relokasi satwa, mengamankan, malah dianggap mengganggu kerja pemerintah. Memang gak semua, tapi ada terjadi di lapangan.

Jadi jenis konservasi itu ada 2.
Konservasi in-situ, dimana hewan tersebut dimasukkan/dipindahkan kedalam wilayah khusus. Lemahnya disini, masih ada hewan yang seenaknya keluar dari wilayah karena nalurinya. Yaiyalah, namanya hewan, ya kali mereka dipaksa harus tau batas wilayahnya?
Dan ada juga masyarakat yang entah dari mana bisa menduduki tanah dalam kawasan hutan lindung. Seenak jidat buka hutan, atau udah izin buka hutan tapi ya itu gaada regulasi sama instansi lainnya.

Kedua, Konservasi ex-situ yang 'mengamankan' hewan liar itu ke tempat yang baru namu  tidak serupa dengan habitat aslinya. Di buat menyerupai sih... tapi gak di alam aslinya. Misal ni kayak penguin kan gaada ya di jepang, tapi di buat disana habitat dingin buat penguinnya. Gitu lah kira-kira. Negatifnya tentu ada dan lebih banyak, hewan cenderung tergantung sama manusia dan kehilangan insting alam liar.

Nah, penyedia dari kedua jenis konservasi ini sering bertolak belakang dalam visi misi dalam penyelamatan satwa. Padahal tujuan mulianya sama. Disitu kadang saya seudih. Gini deh misalnya, ada hewan sitaan kita bilang aja ini orangutan. Dari bayi udah bareng warga, minumnya susu pake dot. Terus pas di sita dia di masukkan ke sekolah untuk di lepas liarkan kembali. Dari prespektif saya sih lebih aman kalau dia di kebun binatang. Karena akan memudahkan penjaga ya karena dia udah terbiasa sama manusia. Kalau di paksa dia untuk 'liar' lagi saya ragu selama apapun dia di sekolah kan untuk balik ke alam bakal ada insting kecilnya, rasa takutnya untuk kembali ke hutan. Dari bayi loh dia sadarnya dia tinggal di rumah warga. Minum susu dan makan buah enak. Btw, saya bukan ahli dalam ini. Nanti mungkin saya akan belajar lebih dan bisa jadi presepsi saya akan berubah.

Begitu pula ya dengan dengan hewan sitaan yang masuk ke daerah rumah warga trus malah diserahin ke kebuh binatang. Oalah, pasti lah doi ngeberontak. Gila aja kali dia sudah bahagia di hutan bersama keluarganya tapi ga di balikin kesana lagi. Plis deh, se hewan-hewannya hewan saya yakin mereka punya perasaan yang sama dengan manusia.

Yah, jadi begitulah guys kira-kira yang ingin saya paparkam dalam tulisan ini. Kalau temen-temen semua punya saran atau pendapat gak tentang kegiatan konservasi di Indonesia? Komen yah! 

2 komentar:

  1. Jadi kalau dari segi manusianya nih, ibarat mantan sudah dirawat sejak 'susah' kemudian perlahan sudah pintar melihat dunia, matanya gak pake kacamata kuda lagi. Setelah dilepas ya dia terbiasa dengan kehidupannya yg baru, siapa sangka kalau ternyata di dunianya yg baru dia lebih bebas gak kayak monkey yg biasanya cuma minum susu lewat dot, dia bisa minum langsung dari sungai.

    BalasHapus
  2. dasar manusia!, saya sebagai gorila juga merasa miris, huehuehue...

    BalasHapus

You word can change the world! you can left a comment on my post :)

Mahdiyyah Ardhina (2016). Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me :)