#7 Manusia yang terlalu naif melihat dunia

by - Minggu, Oktober 27, 2019

Ayahku selalu aja memperingatkan ku agar hati-hati seperti gak boleh ngajak ngobrol orang sembarangan di jalan, nerima bantuan orang, atau ngebantuin orang. bahkan dulu saat aku SMP, aku pernah menangis hingga meraung-raung karena gak diizinkan main dirumah temen saat weekend. Aku gak pernah nginep dirumah temen, ada tugas sampe malem pun di bela-belain di jemput. aku selalu merasa ayahku berlebihan menilai negatif teman-temanku. Masa SMA untuk mengikuti beberapa kegiatan, entah berapa kali aku menjual nama abang sepupuku. Lambat laun beberapa teman komunitas yang sudah dikenal ayah turut kujual namanya XD

Kayak ga ada orang jahat didunia ini ku anggap. Karena pemahamanku orang jahat adalah orang yang menyakiti orang lain secara fisik. Dulu aku pernah kehilangan alfalink yang harganya cukup fantastis dimasa itu. aku dimarahi karena  teledor aku terima, tapi aku tidak benci pada si pelaku karena menurutku dimasa itu si pelaku hanya iri. Yasudahlah. Dan juga mungkin rezeki ku dengan si alfalink hanya sampai situ. Begitu jumpa aku memaklumi segala kehilangan. Rejekinya hanya sampai situ.

Kadang aku takut jika aku merasa sombong karena Allah melindungiku. seroang senior  pernah dirampok dijalan tempat pejalan kaki depan Gramedia gajah mada. Sedangkan dalam ingatanku adalah, aku ditawari kakak-kakak naik kereta dari mesjid aceh sepakat buat balik ke  gramedia setelah maghrib. Dan berkali-kali aku jalan kaki sendirian masa SMA  dari perpustakaan kota ke Gramedia Alhamdulillah Allah melindungiku. Atau jangan-jangan tampangku bukan target empuk ya XD Astagfirulah.

Merasa takut sering setiap pulang malam. Pernah juga pulang jam 2 pagi karena diskusi. Cerita begal dimana-mana seramkan ya. di pukul, di bacok, ampe dimutilasi, Naudzbillahi min dzalik. Aku hanya tancap gas pol kala itu. Di banding takut begal aku jadi lebih takut kalau kecelakaan. Siapa yang mau nolong pagi buta juga???

Dan sekarang aku sering keluar masuk hutan. Aku pikir orang-orang desa di pinggiran hutan ya pikirannya polos dan gak macem-macem sepertiyang kupikirkan. tapi ternyata apa yang terjadi didalam lebih mengerikan. Kau akan melihat orang-orang di depanmu tersenyum ramah tapi di belakang bisa jadi ada sekelmpok orang yang merencanakan pembunuhan ku. Ya Allah, aku takut mati. Amalan ku sebesar  jagung pun belum ada dibanding dosa segunung T_T

Aku tak tau apa yang dulu Ayah ku alami sehingga selalu waspada dengan semua temanku. Namun, kini aku mengerti bahwa berpikir positif itu bagus tapi harus di imbangi dengan kewaspadaan. 

Kalau kalian bagaimana? terlalu naif juga kah melihat dunia?

*Naif= Naive= Polos

___________________________________________________________________________

Yuhu, setelah memaksakan diri untuk menulis selama semingu penuh aku merasa jauuuh lebih produktif (mungkin) dibanding hanya mencari pembenaran diri karenamerasa sudah terlalu lelah lalu hanya baca webtoon dan scrolling instagram setiap malam sampai tertidur.  Padahal aku yang dulu lebih hiperaktif. Ckckck smartphone memang mengerikan kalau tidak bisa kita kontrol sendiri.

Semoga aku tetap semangat menulis ya gaes, supaya hari-hari ku lebih bermanfaat ntuk orang banyak! (emang tulisan mu bermmanfaat?) 

Wassalam!

Wassalam!

You May Also Like

4 komentar

  1. Serius mau dibunuh? Buat apa?

    BalasHapus
  2. Rajin nulis lagi lah, Iyah. Jangan biarkan blog ini besawang :D.

    BalasHapus
  3. Ada betulnya juga harus waspada, kan setiap orang yang dijumpai belum tentu sama dengan pikirannya. Jadinya bisa berhati2

    BalasHapus
  4. Positif thinking tp jangan terlalu polos. Dunia penuh konspirasi, Yah. :')

    BalasHapus

You word can change the world! you can left a comment on my post :)