Hari Sabtu, aku bertemu dengan beberapa adik tingkatku di kampus yang sekarang jadi teman main. Salah satunya kami panggil dengan tujuan membantu permasalahan kami dalam meng-install aplikasi, Gilang hadir diantara kami. Ia nyengir cukup lebar tatkala memamerkan buku yang sudah ia sampul plastik dan diberi pembatas buku bunga kuning buatan pacarnya. Buku itu berjudul "Reset Indonesia" karya Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu. Aku mengambil buku itu dan membolak-balik halamannya. Isi sub judul di halaman daftar isi tidak asing, sebagian sudah pernah kutonton sembari menyetrika baju di rumah. Kami membahas buku itu sejenak, meluapkan emosi pada kebijakan semena-mena dan lanjut kepada urusan awal kenapa kami bertemu.
-
Malam sebelum tidur, seperti kebanyakan manusia masa kini akupun scroll hape. Saat mata sudah mulai terkatup, reels akun ceritamedan milik sepuh, bang Wahyu Blahe, muncul. Sebagai murid, fans dan pengikut garis keras bang Blahe, aku pun membaca dengan seksama,"Diskusi Publik Buku Reset Indonesia W/ Dandhy Laksono." Spontan, aku langsung mengirim via DM ke Gilang. Jawabannya tentu bisa ditebak,"GAS, Kak." Padahal kami berdua gak tau mekanisme alur mengikuti kegiatan ini. Gak tau juga siapa saja penyelenggaranya. Dengan mata setengah mengantuk aku mengirim pesan kepada akun yang tertera bertanya alur kegiatan besok. Dan kutinggal tidur.
-
Rabu, 5 Februari. Aku melakukan rutinitasku seperti biasa sampai pada pukul 11 siang Gilang memberi tahu kalau acaranya dimulai sejak pukul 10 pagi dan dia gak bisa hadir karena masih kerja.
Hah?
Yaiyalah ga bisa hadir kalau acaranya di waktu kerja begini! Aku kembali mencari informasi dari flyer, benar saja acara sudah dimulai dan aku melihat beberapa temanku yang ternyata juga hadir di acara itu. Mereka juga pada lupa untuk saling mengabari karena memang acara se-mendadak dangdut itu.
Aku segera membereskan kegiatanku dan menyusul ke lokasi acara setelah dzuhur. Alhamdulillah, diskusi utama belum dimulai. Aku pun duduk manis untuk mendengarkan diskusi. Meski jadi kelewatan diskusi dan paeran foto bang Yugo, Bang Nanda dan kawan-kawan.
"Bukan tugas jurnalis memberi solusi, tugas jurnalis itu memang memberi kritik atas apa yang dilihat."- Benaya
Acara "Menguji Reset Indonesia" yang diinisiasi indatakomunika dan didukung Green Justice Indonesia (GJI) di Serayu Cafe, Gotham City Medan berlangsung lancar. Diskusi dibuka dengan statment singkat dari narasumber. Bung Benaya sebagai salah satu penulis di Reset Indonesia, Jurnalis Gen-Z dan juga member Ekspedisi Indonesia Baru mengatakan bahwa mereka sebagai jurnalis malah dimintai solusi oleh masyarakat yang mereka datangi. "Bukan tugas jurnalis memberi solusi, tugas jurnalis itu memang memberi kritik atas apa yang dilihat." kata bung Benaya sebagai statment pembuka. Dilanjut oleh Bang Dandhy yang sepertinya tak lelah dalam 'mengomeli' negara ini dengan berbagai karyanya sejak 16 tahun silam. "Hari ini kita terlalu takut untuk melawan, terlalu bodoh untuk berdebat, terlalu miskin untuk menolak." ujar bang Dandhy setelah menjabarkan praktik tribalisme yang telah mengakar pada partai, parcok dan parjo di Indonesia ini. Dan banyak dari kita yang melihat ini sebagai kenormalan.
Bang Avena Matondang, antropolog yang berperan sebagai pembanding dalam diskusi ini juga turut meramaikan pemantik diskusi dengan membahas perihal hak, budaya dari masyarakat adat. Sayang, aku gak terlalu terlalu menangkap karena tiba-tiba pecah fokus (maap baaang).
"Hari ini kita terlalu takut untuk melawan, terlalu bodoh untuk berdebat, terlalu miskin untuk menolak." - Dandhy L
Buku Reset Indonesia ini adalah buah dari perjalanan panjang mengelilingi Indonesia sejak 16 tahun lalu. Selama ini, semua temuan itu diabadikan dalam video, artikel dan berbagai media massa lainnya. Kini semua kisah pilihan ini dirangkum dalam satu buku utuh dengan penulis yang berasal dari 4 generasi berbeda yakni; boomer, Gen X, Millenial dan Gen Z. Tebak sendirilah siapa dari generasi yang mana. Buku ini diluncurkan ditengah masyarakat kita terjangkit penyakit brainrot dari video-video pendek di sosial media, literasi 3 terbawah se-Asean (entahlah kalau ada update terbaru pesanan pemerintah), dan pola pikir yang tidak terlatih terstruktur dengan baik.
Sebelum sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung panjang, sebuah video berisi 7 gagasan yang dibawa oleh Reset Indonesia ditayangkan. Gagasan itu ialah ; Mengembalikan Kedaulatan Rakyat, Keadilan Agraria dan Pengelolaan Lahan, Ekologi sebagai Panglima, Kedaulatan Pangan dan Ekonomi Lokal, Hukum untuk Melindungi Warga, Desentralisasi Sejati, Pendidikan dan Kebudayaan Berbasis Karakter.
Bang Dandhy memperkuat gagasan ini dengan ajakan agar kita mampu memberdayakan tanah sendiri dan bisa hidup di atas tanah itu dengan sebaik-baiknya. Juga pemilihan komoditi yang tidak bergantung pada tengkulak (dan menyumbang kerusakan ekologis!). Ide membangkitkan lebih banyak koperasi sesuai dengan pemahaman bung Hatta juga disampaikan. Well, kita semua tau koperasi digagas bung Hatta, emang ada koperasi yang gak sesuai gagasan awal? ~piu piu danatara
Sesi diskusi pun dibuka. Beberapa bertanya tentang harapan apa setelah buku ini diluncurkan, apa keinginan para penulis, apa yang harus dilakukan para anak muda dan sebagainya. Pertanyaan mudah untuk dijawab meski tak mudah untuk diwujudkan. Tapi para narasumber telah siap meng-counter setiap kalimat yang memberi isyarat bahwa rakyat mulai menyerah. "Semakin banyak kita mengeluarkan hal-hal untuk dikritisi, semakin dekat kita dengan perubahan"
Tujuan dari isi buku ini juga untuk menyebarkan isu-isu yang mungkin banyak orang belum tau sehingga membuat kita semakin kritis terhadap setiap kebijakan. Intinya, harus ada generasi yang melek untuk tidak terlena dengan semua ketidaknormalan yang mulai dinormalisasi.
Aku sendiri pertamanya menahan diri untuk tidak bertanya dan ingin menjadi pendengar budiman yang menyimak seluruh diskusi dengan baik. Sampai kepada bung Benaya menyampaikan belasungkawa dan kekecewaan mendalam mengenai kasus seorang anak ditemukan suic*de di NTT. Aku langsung ke trigger dan sakitnya adalah gak ada orang di kanan kiri ku ketika gejala anxiety ku muncul. Masalahnya dalam perjalanan menuju lokasi acara aku sudah merasa gak nyaman ketika radio memutar berita ini. Aku langsung mengangkat tangan untuk melepas kepanikan ini. Aku menyampaikan aspirasi bagaimana geramnya aku bahwa ada banyak anak-anak yang seharusnya memiliki hak penuh tapi harus terenggut dengan kebijakan bodoh pemerintah. Dan aku juga masih membawa luka melihat kondisi Aceh Tamiang yang belum diperhatikan secara khusus sampai selesai oleh para pemangku kebijakan.
Selanjutnya sesi diskusi dan tanya jawab berlanjut dengan cukup baik. Yang menarik bagiku ketika ada pertanyaan,"Reset ini dimana setting-an awalnya?" Yah, kembalikan kepada bentuk masyarakat negara kita yang Agraris - aku lupa ini siapa yang menjawab, sepertinya Bang Dandhy.
Acara ditutup pukul 5 sore. Penyerahan penghargaan, penandtanganan buku dan foto bersama. Aku sendiri meminta agar bukuku dibubuhi pesan oleh bung Benaya. Aku minta kata-kata semangat untuk tidak menyerah dalam hidup. Karena aku yakin mereka yang terlibat dalam Ekspedisi bertahun-tahun ini sudah melihat fakta-fakta sangat pahit dari setiap sudut negeri ini. Sedangkan aku yang hidup nyaman dan enak langsung merasa menjadi manusia tidak berguna begitu melihat tetangga kanan kiri hidup tak layak dan tak punya pilihan. Mentalku lagi lemah, selemah-lemahnya. Aku pengen nyerah supaya gak melihat ketidakadilan yang jomplang sekali di tanah kelahiranku sendiri. Bung Benaya dengan rapi menuliskan pesan,"Kalau menyerah, ingat kita hidup sama banyak orang baik."
Ah, benar.
Bisa, kita pasti bisa me-RESET Indonesia. Kembali pada mimpi-mimpi dan harapan para pahlawan revolusi terdahulu. Mungkin tahun depan, tahun depannya lagi, tahun-tahun depannya lagi, entah kapan tapi kita berada di sisi perjuangan itu selamanya.
![]() |
| Foto bersama panitia penyelenggara yang ga tau kenapa aku ikut foto juga. Btw, foto-foto pemanis postingan lainnya nanti aku update lagi. Males nyalain hape, lagi dicharge. |
Semoga, semua yang hadir di acara Menguji Reset Indonesia hari ini di Medan dapat segera menyelesaikan isi buku Reset Indonesia sampai selesai, tuntas. Agar moralitas yang diusung sama rasa untuk terus bergerak ke arah yang tepat. Amin.
Ciao!
PS: Makasih tiketnya admin, berasa dikasih hadiah ♥
.jpeg)
0 Komentar
Your word can change the world! you can be left a comment on my post :)