Review Film Petualangan Sherina 2, Kelahiran 90-an Fix Nangis 27 September 2023, aku ngerasain deg-degan parah karena besok, Petualangan Sherina 2 bakal tayang dan gaada tiket pre-sale nya. Yup, sebagai si lelet abis, aku selalu ga bakal bisa rebutan tiket offline di bioskop. Aku pun nge WA geng SMA. Sayang, mereka lebih senang ternyata kalau nonton film horor. Sejujurnya aku tidak terlalu menyukai film bergenre begitu. Yah namanya kehidupan, kita demi kawan, kawan demikian. Ha ha ha. 

Review Petualangan Sherina 2
Official Posternya, aku screenshoot dari twitter. eh salah, X maksudnya.

28 September 2023, aku mengirim pesan kepada salah satu junior ku. Sebenarnya dia kelahiran tahun 2002. Tentu saja dia tidak menonton PetSher 1. Tapi karena hampir rata-rata teman sebaya di ranah kerjaanku itu orang lapangan, aku agak ragu untuk menghubungi mereka. Takutnya sedang di hutan. Benar saja, dua teman dengan umur sepataran yang aku WA sejak jam 8 pagi, baru muncul centang dua sekitar jam 2 siang. Yup, mereka sedang tidak berada di antara manusia saat ini. Walhasil, memanfaatkan senioritas (maaf ya, Yadia) aku memaksa juniorku untuk menemaniku menonton di hari liburnya dia. Ya, harus mau dong. 


Review Petualangan Sherina 2  
antri banget bro

Janjinya kita akan ketemu jam 12 siang. Beruntungnya aku adalah orang Indonesia, aku baru menjumpainya pukul setengah dua siang :)

Singkat cerita, setelah menuju ke salah satu bioskop di kota medan dan penuh sekali, (antreannya sampai keluar pintu! sayang enggak aku foto), akhirnya aku mengalah untuk menonton penayangan ketiga. Karena kalau aku paksain di jam itu, kami pasti dapat tempat duduk yang kurang nyaman. Sudahlah mata minus, leher cengklak pula kan tidak enak sekali sensasi nontonnya...

16.40, pintu teater tak kunjung dibuka. Hm... terlambat 7 menit. Akhirnya kami pada masuk. Studio 1 XXI Cambridge langsung penuh. Sebelum film dimulai, aku kembali mengingatkan bahwa film ini merupakan Drama Musikal kepada partner nontonku yang beda generasi ini. Okay, here we go...




Review Petualangan Sherina 2

Wajah Sherina langsung memenuhi layar begitu film di mulai. Ia sedang berolahraga pagi lalu alunan lagu.. Matahari, bersinar cerah.... Air mataku sontak menetes. Seperti ada sesuatu yang menggelitik dalam memori. Sebuah perasaan yang aneh, aku tidak sedang terharu, tidak juga sedih ataupun memikirkan hal seperti 'ah aku sudah dewasa ternyata ya.' bukan perasaan yang begitu.

Sherina dewasa sudah menjadi seorang jurnalis berbakat dan memiliki tim di tempat media ia bekerja. Aryo (Ardit) namanya, sebagai kameramen dari Sherina. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk ke Swiss, untuk meliput Davos World Economic Forum. Sayang, tugas itu malah dioper ke tim lain dan tim Sherina malah ditugaskan meliput momen pelepasliaran orangutan di Kalimantan.

Akhirnya ia bersama Aryo berangkat ke Kalimantan. Disana mereka dijemput oleh salah satu NGO bernama OUKAL yang dipanjangkan menjadi Orangutan Kalimantan. Hm, nama NGO yang cukup gamblang, ya.

Lalu, yahu~ reuni pun tiba. Ternyata program manajer OUKAL adalah Yayang alias Sadam (Derby) si anak mami dan tukang bengek. Dia jadi cakep pol, charming dan kalau kata anak jaman sekarang, cowok green flag

Obrolan sabahat lama mengalir dengan santai, meski ada beberapa celetukan yang menjadi pertanyaan bagi Sherina sendiri apa yang membuat mereka terpisah begitu lama. but its not a big deal, Sherina langsung jatuh cinta dengan raut dan sosok orangutan di sekolah hutan saat diajak jalan sama Sadam.

Lalu keesokan harinya, bersama tim OUKAL, mereka melewati perjalanan berjam-jam untuk mencapi lokasi pelepasliaran orangutan tersebut. Orangutan berhasil dilepas dengan baik kembali kehutan. Disana Sherina juga berinteraksi dengan salah satu anak setempat, Sindai (Quinn Salman) namanya, yang menjadi penyelamat orangutan yang dilepaskan ini. Duh banyak amat 'yang' nya. gara-gara Yayang nih.

Eeh baru dilepas, OU nya malah diculiiik. Dan terjadilah kejar-kejaran antara Penculik OU dengan Sherina, Sadam dan Sindai. Bagaiman hasilnya? apakah ounya ketemu? siapa yang menampung ou itu? sebenarnya apa yang terjadi antara Sherina dan Sadam selama ini? apakah Sadam sudah menikah?

Yah endingnya bisa kita tonton bersama ya teman-teman.


Scene Callback Luar Biasa

Per aku menulis postingan ini, sudah kali kedua aku menonton Petualang Sherina 2. Kali pertama menonton aku sangat menikmati setiap magic dalam drama musikal ini. Aku enggak terlalu mengerti film, tapi setiap berganti adegan, dalam kepala ku langsung terbayang adegan yang sama di film PetSher1. Aku ga bisa kasih tau detail karena inilah 'sihir' nya.  Aku sampai bingung menuliskannya. Ini seolah seluruh naskah film pertama diparafrasa kembali untuk menyesuaikan dengan hal yang relevan saat ini. Luar biasa mas Riri Riza mengemas kembali setiap detailnya. Ini juga hasil tangan emas mbak Riri Riza dam tim yang berhasil menjahit kembai cerita ini menjadi versi 'bertumbuh'.


Jangan pertanyakan istilah yang aku gunakan, aku hanya penikmat :)


Ini tidak berlaku hanya soal adegan, bahkan musiknya di Recycle dari film pertama. Hanya lagu 'Sayu' yang menurut ku benar-benar dibangun dari nol. Dan setelah aku baca beberapa berita media online, benar saja, lagu Sayu baru diciptakan Sherina saat sudah berada di Kalimantan. Menarik sekali. Kalian harus mendengarkan lagunya.

Dan (lagi-lagi) seperti di film pertamanya, ini adalah cerita 'Petualangan' seorang Sherina. MC seolah tidak perlu into chara lagi kedalam perannya. Petualangan yang aku maksud pun juga bukan isi cerita dalam film, tapi bagaimana campur tangan Sherina Munaf sendiri dalam film ini, penyaranan lokasi, pencetus isu orangutan kalimantan dan pelaku scoring - penata seluruh musik dalam film- di film ini. Keren banget.

Btw, aku baru tau kalau ada film yang dibuat dengan lebih dari satu PH. Yup film ini ga hanya di produksi miles film. ini hasil kerjasama dengan BASE entertaiment juga. Aku rasa sih pengaruh besar dari ph satu lagi soal coloring nya, mungkin? oh juga ada beberapa animasi. Seperti scene sherina sadam di awan-awan (yang menurut salah seorang seniorku ga begitu berguna tapi aku suka tuh!), terus juga beberapa adegan orangutan menggunakan animasi. Untuk scene kucing Caracal yang aku ga tau itu asli atau bukan, aku harap sih tidak. Cuma kalau iya, sudah banyak pertimbangan mengingat itu kucing dari Afrika yang sudah banyak di pelihara orang kaya, mungkin?


Perkembangan karakter setiap tokoh

Review Petualangan Sherina 2
Jujur kang Sadam, ente belajar dari mana style begini. sangat tidak asing!

 

Sherina ga usah ditanya lagi ya, Sherina is Sherina. Lalu tokoh Sadam hum........ to be honest, gestur yang diambil ini mirip banget sama salah satu petinggi di lokasi yang mereka pakai syuting. Aku ga bisa sebut orangnya karena sangat menghargai beliau. Tapi masalahnya semirip itu. Apalagi di salah satu wawancara juga Derby bilang dia menemui seseorang dengan profesi sama untuk mendalami karakternya. Yah... ada kemungkinan sih mereka ketemu saat disana. Mungkin juga tidak. Tapi aelah kok bisa semirip itu. Udah deh. pokoknya bagus.

Keberadaan Ardit Erwandha disini sangat mencairkan suasana banget. Ekspresinya bener-bener temen yang tengil, cuek dan tipikal pekerja Gen-Z banget sih. emang gimana gen-z? yah gimananya kamu yang tau kan? hehe.

Review Petualangan Sherina 2


Isyana juga aduuh luar biasa karakternya. Orang glamor yang bener-bener ga mikirin apapun selain masalah gengsi dan eksistensi di sirkelnya. Hadeeh. Chandra Satria juga bagus sih. Cuma aku memang geli banget ngeliat interaksi Mr dan Ms Syailendra. Gak nyaman.


Quinn Salman aduh... kok bisa karakternya berubah drastis gitu. Keren bangeet! karena aku taunya Quinn itu penyanyi anak-anak yang ceria (dan kadang bikin aku kesal! tat tara traa), selalu senyum, eeeh tapi sepanjang film dia bisa memerankan ekpresi anak-anak pelosok yang selalu curigaan dan juga minder kalau orang luar datang. Dia harus main film lagi sih. Kalau bisa drama musikal juga. Karena suaranya berkarakter. (halah kayak paham aja, Mad. wkwk)


NOSTALGIA

Kalau kamu mengira ini untuk kita, para penonton petualangan Sherina yang mengenang masa kecilnya dengan bahagia, kamu salah. Ini tidak hanya untuk penontonnya saja, ini juga nostalgia antara seluruh Kru di masa itu. Terutama tokoh-tokoh yang sudah lebih dulu berpulang. semuanya mengenang kebersamaan itu. Karena kalau kalian nonton BTS nya, pasti mengerti ini bukan sembarang film yang sudah ada skenario baru casting pemeran beserta mencari kru. Bukan. Mbak Mira dan Mas Riri menyusun cerita ini dengan bertumbuh dan mencari formula terbaik untuk menghasilkan karya yang akhirnya tak lekang oleh jaman meski sudah dua puluh tahun lebih berlalu. Luar biasa...


Subliminal Message?

Ada banyak pesan yang disampaikan di film ini. Baik yang tersirat maupun yang tersurat. Sudah jelas masalah orangutan menjadi topik utama, ini adalah satwa kunci yang memiliki tugas menyebarkan biji di hutan. Hewan ini juga bukan hewan peliharaan serta sama sekali tidak boleh dipelihara. Kedua, ada adegan yang menurutku menggamabarkan kegelisahan masyarakat kalau NGO lingkungan masuk. Mereka selalu mempertanyakan "Hewan terus yang diselamatkan, lalu kebun kita manusia di rusak sama hewan harus gimana?" Dan di adegan yang aku maksud itu menjawab pertanyaan ini. Yah, tentu selalu Manusia menjadi hal pertama yang diselamatkan jika itu mengancam keselamatan nyawa.


Kita juga bisa menebak-nebak referensi tokoh Syailendra dari siapa :)


oiya ada tambahan nih dari temenku, mbak Anindya nabilah yang lulusan film dan suaminya kerja di konservasi juga.

hmmm dari segi film ya wkwkwk kalo dari scene sama script wise cukup bagus sih untuk sequel. gak memaksakan gitu dan character developmentnya oke. kurangnya cuma di karakter antagonisnya aja masih rapihan film pertamanya. tapi karna ini drama musikal salut sih sama sherina soalnya scoringnya bagus bgt 😭 kurangnya lumayan ketutup sama chemistrynya sherina-derby 😜


Kesimpulan

kayak skripsi aja buk.

Film berdurasi 126 menit ini sangat cocok dinikmati oleh semua umur karena ceritanya memang dirancang untuk anak-anak dengan tokoh yang sedikit, alur cerita tidak terlalu sulit serta penyampaian dialog yang di pilih cukup sederhana. Dengan catatan menurutku tetap harus dibawah bimbingan orangtua. Kenapa? ya perlu aja untuk menjawab pertanyaan baru setelah menonton film ini. Jadi orangtua ga boleh tidak acuh dengan keceriwisan anak-anaknya ya!

Review Petualangan Sherina 2

Terimakasih seluruh orang yang terlibat dalam film ini. Aku melihat hasil karya yang dikerjakan seseorang yang menyukai pekerjaannya. Pakai hati. Yah, kalau ditarik lagi kebelakang, film-film keluaran miles sih udah wajar box office ya...


Ah, terakhir... menurutku Petualangan Sherina 3 tidak perlu ada hehe. Tapi Quinn Salman dan mungkin beberapa artis cilik lain sudah bisa naik dan membuat dengan tema serupa. Cerita sederhana dan pesannya tersampaikan dengan baik.


Oke, jadi kamu sidah menonton Petulangan Sherina 2 dengan siapa?