Hi, Assalamualakum guys!
Salam rindu dari ku untuk teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa. Jangankan yang di luar medan... yang di dalam medan juga jadi jarang ketemu karena aku sebulan ini.... di HUTAN! oke, gak hutan-hutan banget sih.
wah, kena kompress yang sangat parah dari MS Picture Manager.
Aku keterima untuk ikut pelatihan Conservation Leadership Training angkatan ke 2 yang di selenggarakan oleh Orangutan Information Centre (OIC). Training ini gratis guys. Gratis! dimana lagi dapat banyaaaaak banget ilmu terkait konservasi secara cuma-cuma. oh, betapa beruntungnya aku terpilih dari ratusan orang. Tepatnya diambil 30 orang dari 127 orang dari Aceh dan SUMUT. And you know what? hampir 80% dari mereka adalah anak mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) dan asal daerahnya dari perbatasan pemukiman dengan daerah konservasi. Aku, yang hidup besar di kota tau apa?


Intinya aku bener-bener kosong (soal isu konflik daerah konservasi) saat memulai training ini bulan maret lalu. Bahkan, aku gak tau luas taman nasional gunung leuser itu berapa hektar. Maklum, skripsiku di kebun binatang, gak di hutan langsung. hehe. Seharusnya aku tau, itu pengetahuan umum dan dulu aku PKL nya juga di TNGL. ehe!

23 Maret 2019
Kita berangkat ke daerah training pertama di Bukit Mas, Besitang. tepatnya di Sekolah Alam Leuser (SAL). Kalau enggak tau, dengan segala hormat saya persilahkan googling :p

Berangkatnya bareng-bareng dari kantor OIC. Janji berangkat jam 10 pagi, saya datang jam 09.45 WIB. Tumben kan tidak telat? tapi tetep akutuh dimarahin huhu.

Aku liat wajah-wajah peserta yang lain, mereka saling bercengkrama seolah sudah kenal lama. Haduh, apalah aku yang sulit berbaur ini (bohong banget!) Syukurlah ada Vitta jelly drink. Canda, namanya Vitta, walaupun anaknya manis tapi dia gak bisa menunda lapar. Aku kenal dia karena sebelumnya kami sama-sama volunteer di event orangutan festival tahun lalu. 
Vitta, Wulan, Sarapan Di OIC
Sampai lokasi, aku tetap tidak ada mengobrol dengan peserta lain kecuali, Vitta, Wulan temannya Vitta, Zenny, hana, ayu.... dan.. oke, aku ngobrol kok dengan peserta lain. 

Sekitar jam 2 kami sampai ke lokasi. Silahkan hitung sendiri waktu perjalanannya. Kami di turunkan oleh minibus kami di sebuah sungai lebar. Bentar, kami di suruh nyebrangin sungai? berenang sambil bawa tas? habislah aku yang bawa baju hanya 3 set. Itu dalam pikiranku. Sampai tiba-tiba ada mobil double cabin yang menyebrangi sungai. waw. Seumur hidup aku baru liat mobil yang menyebrangi sungai secara langsung.  

Kami diangkut mobil itu, aku mau videoin tapi karena kenorakan ku yang baru pertama kali nyebrang sungai pake mobil, gak terekam gaes. dan berhubung saat pulang aku juga gak bareng temen-temen yang lain, aku gak videoin itu. hem.

Sampai di sebrang, kami di sambut oleh kepala sekolah SAL, Miss Darsimah. Btw, aku lupa di sini apakah kami pasang tenda dulu baru acara pembukaan atau sebaliknya. Langsung aja, setelah kami makan siang, beres-beres, dan langsung masuk materi pertama dari...
Para wanita tangguh yang membangun tendanya sendiri. Laki-laki? tak ada campur tangan *bangga*
LHK GAKKUM (Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan)
Di bawakan oleh Kak Diah Anggreini seorang Polhut (Polisi Hutan) dan Bang Hendri Pengawas Lingkungan Hidup. Duo ahlinya ahli ini memaparkan bagaimana hukum tentang konservasi di Indonesia berjalan. Gakkum sendiri baru terbentuk 2015 yang lalu. jadi belum banyak kasus yang di selesaikan. Meski begitu, kasus yang sudah selesai adalah kasus-kasus besar! Istilah dari kasus yang bisa di urus kalau berkasnya udah P21. 

Jadi, kalau temen-temen menemukan pelanggaran undang-undang konservasi yang tercatat dalam UU No 41/ 1999 , UU No 5/1990 , UU No 32/2009, UU No 18/ 2008, UU No 18/ 2013 dan UU No 37/ 2014. Males saya nulis isinya hehe.

Selanjutnya materi NAVIGASI DARAT
Yang Subhanallah sekali ya. Di pandu bang ucup alias Yusuf. memang rata-rata orang yang namanya Yusuf cakep-cakep. Bang usup ini baru berisitri satu dan 2 anak (?) kalau ga salah. Beliau mengajarkan semua tentang navigasi darat. Anak Mapala sih dasar dasarnya agak paham. Untung aku sekelompok sama bang Kobol alias Ikram tapi ga dipanggil ikram karena udah ada bang ikram yang lain. Bang kobol ini pinter, anak mapala tapi rada gesrek orangnya. Dia...mantan guru matematika. 
Ini bang kobol!
Buat apasih belajar navigasi darat? pikir ku. Kan sudah ada google maaaapss. Tapi kalau di hutan yang gaada sinyal, atau pun kalian download peta offline, tetep aja google gak bisa nujukkin mana jalur yang bisa di lalui sama yang enggak. Kan tim google maps gak nyampe hutan bok, wkwk. jadi bermodalkan peta dari jaman belanda dan kompas, anda bisa keluar dari hutan gaes!

Setelah mulai oyong, kami di persilahkan tidur... tapi boong!

Jam 12 malam kami masih diserang sama materi Peranan Pemuda Dalam Upaya GAKKUM LHK
intinya gimana kita generasi muda berani melapor dan tau apa yang harus dilakukan saat menemukan pelanggaran hukum konservasi.

Malam eh pagi, kami tidur di tenda. dan di malam pertama (maaf kalau agak ambigu) aku belum hafal nama teman-teman satu tenda ku. Ya, anak kota memang sependek dan sesombong itu ingatannya. Dan akhirnya aku lambat laun tau bahwa yang setenda dengan ku ada Sarah, Ayu dan Karin. Karin aja, gak pake Aw.
Gas teroos, jangan kasih kendor
Btw, aku baru tidur jam 2 setelah kami berapi unggun ria sambil bercengkrama hangat~