Keluarga ku memiliki kebiasaan untuk makan bersama di meja makan. Kami menyebutnya, majelis meja makan. Makan tak hanya untuk mengisi perut, nanmun mengisi seluruh energi yang ada. Dengan apa? mengobrol. apa saja. Yah kadang tidak selalu saling mengisi, bisa saja mengurangi energi kalau sedang tidak sependapat, hehe.

Pagi, usai sarapan, ibu memintaku untuk mencarikan buku yang di rekomendasikan oleh teuku wisnu dan beberapa artis hijrah lainnya. Buku yang dimaksud lewat di iklan dan ibu tidak tau bagaimana cara menyimpannya. Buku itu tentang shalat, tak sekadar panduan seperti buku ungu yang melegenda itu, ini juga ada arti perkata dan makna dari setiap gerakan.

Lalu aku bilang, kita sudah punya buku mengenai itu. Keluargaku sudah memiliki kebiasaan mengkoleksi buku. Iya koleksi, bukan hobi. Karena kalau hobi pasti rutin membaca. Kalau kami mengkoleksi buku agar ketika suatu hari butuh informasi, maka buku akan punya jawabannya. Sebagian besar kalau menurut ibuku, buku-buku ini banyak dikoleksi semenjak aku mulai pandai bertanya hal-hal yang aneh. Yah namanya juga anak kecil ya.

-

Kembali ke soal buku sholat tadi, aku mengambil buku yang dimaksud dari rak besar. Ibu bilang, itu buku isinya lebih banyak cerita, tidak direct, to the point maunya. Baiklah ujarku, misalnya apa yang kita cari? arti gerakan? arti bacaan? asbabun nuzul penggunaan doa itu? ada.

di counter langsung oleh ibu dengan dalih sudah diumur segini takkan lagi mampu untuk mencari-cari seuatu daam bacaan. Aku mengambil jawaban melalui tokoh yang sedang di sukai ibuku sekarang, Pak Anies. Lantas memberi tau bagaimana beliau membaca, tak harus keseluruhannya, jika struktur buku itu benar, kita bisa memulai dari beberapa lembar pertama di depan, lalu lembar paling belakang dan lanjut membaca dari tengah buku. Aku yang sudah mulai jenuh membaca belakangan ini, terbantu dengan tips tersebut agar tertarik untuk menghabiskan satu bacaan.

ibu tetap bilang, tidak bisa. Aku lantas bertanya apalah beda nasib buku yang akan aku carikan ini nantinya? ternyata oh ternyata, buku itu punya barcode (kode batang) di dalamnya. jadi kita bisa scan (pindai) langsung dengan handphone untuk mendapatkan penjelasan lebih bahkan dalam bentuk video untuk suatu topik.

Hehe. aku pun berujar, menarik.

Aku sudah mulai semampu mungkin,belajar sebisa mungkin agar tidak mudah terpancing untuk membalas hal-hal yang tidak aku sepakati dengan ibu. Meski aku bisa jadi benar, tidak lantas membuatku menang dalam adu pendapat ini. ingat, ibumu ibumu ibumu.

sembari aku mencari iklan teuku wisnu bersama buku yang dimaksud, aku jadi berpikir, apa kah semuanya akan menjadi ketinggalan jaman?

-

Buku-buku sekarang di digitalisasi dan kita mudah mendapatkan highlight (sorotan) mengenai topik yang sedang kita baca. sehingga kita tidak perlu capek-capek memikirkan kembali apa kalimat utama dalam paragraf itu.

Kemudahan bacaan digital ini juga membuat kita memangkas waktu lebih cepat saat mencari sesuatu melalui fitur find. Sehingga seringkali banyak makna didalam buku tersebut menjadi hilang.

dari bacaan, orang-orang mulai membuat konten, bacaan menjadi video, dari tulisan menjadi suara dan bahkan sudah dirangkum dengan sisi beraneka rupa. Menonton video singkat kurang dari 1 menit langtas membuat kita merasa sudah tau buku itu menceritakan apa dan makna yang terkandung didalamnya. Hah...

Tapi aku juga tidak naif, literasi ku saat mencari seusatu semakin-makin parah semenjak ada chatgpt. Awalnya aku merasa itu sangat membantu dalam menemukan jawaban, sayangnya sebagai peneliti aku punya kebisaan crosscheck (memerikasa kembali) jawaban yang sudah aku temukan. salah seorang temanku menyadari hal itu dan ia selalu memberi rujukan saat mengobrol denganku. Hahaha, aku kecil dan aku besar sama-sama merepotkan orang untuk mencari bahan bacaan.

Tanpa aku sadar, aku sudah masuk seperti yang diceritakan penulis buku "Matnya kepakaran". Orang-orang tak lagi saling percaya dengan informasi dari ornag lain karena tau bagaimana kita mendapatkan informasi tersebut. Masifnya sosial media membuat kita tak lagi bisa merujuk orangini berguru kemana, orang ini mencari ilmu dengan siapa dan sebagainya.

Semua akan berubah, semua akan terlihat ketingalan jaman. Pada akhirnya buku fisik yang bertahan akan eksistensinya hanya Al-quran. meski kita punya versi digitalnya, kita takkan mudah memahami kalamullah hanya dengan fitur find.

udah mau cerita gitu aja.