Jumat, 09 Juni 2017

Kisah Kucing Bernama Abeng

Hai guys, kali ini iyah pengen cerita tentang seekor kucing yang biasa aja tapi kayaknya lebih istimewa dan terkenal di lingkungan pertemannan Iyah. Gimana gak sebel, kalau pas liqo (Kajian islami gitu) pasti yang di tanyain kabar Abeng, datang rapat ke kampus yang di tanyain Abeng. Sampai-sampai pas kuliah dan ada materi perilaku hewan, ditanya gimana perilaku Abeng. Masya Allah.... Karena itu, selain Abeng beberapa kali diajak jalan-jalan ke aktivitas Iyah (terutama lingkungan kampus) Abeng juga udah punya IG. Follow ya @Abeng_01 (lah malah promo!)
Instagram si Abeng :v
Kisah pertemuan Iyah dengan Abeng cukup untuk dijadikan sebuah naskah sinetron. Gimana enggak, lika-liku hidup Abeng termasuk complicated. Jadi sekitar bulan oktober, teman satu organisasi Iyah curhat di mesjid, topiknya ‘gimana cara merawat kucing anggora’. Iyah pun menjawab sesuai apa kata beberapa buku-buku kucing yang Iyah baca. Prakteknya Iyah kan gak tau. Dari kecil mainnya sama kucing liar sih. Taunya kucing Ras itu cuma bisa tinggal di luar negeri, kalau di Indonesia harus punya kamar sendiri dan ber AC. Gitu deh pemikiran Iyah saat kecil dulu.
Jadi si teman ini menerima kucing pemberian dari temannya yang lain beberapa hari kemudian. Doi langsung tekor banyak membeli peralatan buat si kucing ini. Mulai dari tempat pup, cargo, pasir dan makanannya. Awal-awal doi memelihara dia sering curhat ke Iyah. Soalnya dia kan nge-kos, agak repot juga ninggalin kucing remaja (saat itu umur Abeng sekitar 6-7 bulan) di kos sendirian. Bahkan saat doi mau pelatihan yang mengharuskan menginap seminggu, terpaksa doi PP (Pergi Pulang) demi Abeng. Dan Abeng pun terkenal di kalangan aktivis organisasi kami se fakultas. Mendekati libur tahun baru (pertengahan desember) Doi mulai mempertimbangkan keberadaan Abeng, karena mungkin lingkungannya yang sempit (apalagi Abeng kucing jantan) dan proses adaptasi yang lama, Abeng sering bertingkah. Pernah satu kejadian ketika ada beberapa teman yang nginap di kosnya si Doi ini, Abeng nyelusup ke celah-celah jendela kaca nako. Karena badannya yang besar, taraa. Doi kejepit dan semua panik deh.

Akhirnya, doi ngomong ke Iyah, apa Iyah bersedia untuk merawat Abeng. Iyah pun mempertimbangkan dengan bertanya pada Ayah sama Mamak. Tentu ayah sama mamak gak setuju, gimana ngerawatnya, gimana makannya, gimana kalau dia sakit. Belum lagi aktivitas iyah yang padat di kampus tentu ujung-ujungnya yang ngerawat Abeng itu Ayah sama Mamak. Dengan ke tidak persetujuan itu, Iyah awalnya menolak. Namun, saat berjumpa dengan Abeng... voila, nekat Iyah membawa nya pulang, naik sepeda motor, sendirian, menjelang maghrib. Catatan, iyah gak Cuma bawa cargo plus kucingnya, tapi juga bak pasir, pasir dan dll barang-barang abeng lainnya. 

Sampai di rumah... Iyah dengan muka takut, bilang ke Ayah dan Mamak (saat iyah mau ngomong sesuatu dengan muka takut, ayah lebih sering mengira iyah abis nabrak atau jatoh dari kereta lagi -_-) Ayah langsung marah dan bilang agar kucingnya di kembalikan besok. Mamak iyah lebih tenang dikit dengan menyuruh mengeluarkan Abeng dari cargonya. Saat dia keluar, spontan ayah sama mamak bilang “Astaga... besarnya...” Dan sejak dari situ lah baik Iyah, Mamak dan Ayah belajar bagaimana menyikapi dan merawat Abeng. Dan salam pertama Abeng ke Ayah Iyah adalah.... nyakar. 
foto saat si Abeng sempat hilang satu harian dan baru ketemu di rumah seberang komplek.
Setelah insiden nyakar (Gak cuma Ayah, Iyah dan anak tetangga juga korban) Abeng masuk ke masalah baru lagi. Minta Kawin. Disitu iyah belum tau umur Abeng yang sebenarnya, pas Iyah tanya sama yang punya sebelumnya apa Abeng pernah kencing nyemprot sana-sini, kata doi enggak. Aduh makin bingung! Akhirnya diputuskan dia dibiarkan ngejar-ngejar kucing betina liar di sekitar komplek. Tapi karena tetangga banyak yang punya kucing ras (dan nyaris semuanya jantan) mereka pada ngelarang ngebiarin Abeng kawin dengan sembarang kucing. Karena Bbeng bisa sakit. Apalagi kabarnya kucing betina liar itu kena kanker di perutnya. Gitu.

Mulai lah pencarian betina pertama abeng. Betina di komplek Iyah baru aja di kawinin dan lagi bunting tenyata. Jadi gak bisa, coba tanya sana-sini akhirnya pinjem kucingnya temen sekelas di kampus, yang rumahnya ujung ke ujung dari rumah Iyah. Nama kucingnya Elek. Berhasil, betina pertama Abeng, bunting! Tapi sangat di sayangkan, menjelang kelahirnannya tiga bulan kemudian... setelah pecah ketuban, Elek tidak sanggup menyelesaikan kelahirannya, di tangan majikannya Elek pun mati membawa serta anak-anaknya ke alam kubur...

Pokoknya sejak desember, gak terasa Abeng udah setengah tahun sama Iyah. Sering dibawa, di foto, hingga akhirnya...

Ada Direct message masuk di Instagram Iyah. Laki-laki. Abang itu bilang kalau dia berterimakasih banget karena udah ngerawat Abeng dengan baik. Katanya dia adalah pemilik pertama Abeng. Akhirnya Iyah banyak bertanya apa yangs ebenarnya terjadi dengan hidup Abeng. 
Foto yang di liaht sama majikan pertamanya.

Abeng lahir 5 desember 2015, kedua orangtuanya pure persia. Suatu ketika, ada seseorang yang niat banget mau ngerawat salah satu kucing miliknya (kucingnya kala itu mencampai 16 ekor). Bahkan seseorang ini sampai niat membayari. Umur 2 bulan lebih, Abeng pun berpindah tangan ke majikannya yang kedua. Jalan 5 bulan... tiba-tiab seseorang ini bilang ingin mengembalikan Abeng, entah apa sebabnya. Abang ini pun bingung, kalau Abneg tiba-tiba balik, apa kata keluarganya? berati pemiliknya tidak bertanggung jawab begitu? Kan gak enak. Jadi di carilah siapa yang bersedia merawat Abeng. Berpindahlah Abeng ke majikannya yang ketiga yaitu teman Iyah tadi. Karena kisah yang sudah di ceritakan di awal-awal tadi. Akhirnya Abeng pindah ke tangan Iyah sebagi majikannya yang keempat....

Pantes aja temen Iyah gak mau cerita asal-usul abeng. Karena mungkin kalau iyah tau, bisa banget Iyah nolak. Dengan lika-liku seperti itu tentu besar kemungkinan Abeng punya perilaku menyimpang (berdasarkan kajian ekologi hewan yang Iyah pelajari). 

Tapi ya itu, maut, rejeki dan jodoh gak bisa di tebak. Semoga Abeng terus sehat sampai akhir hayatnya di tangan Iyah. Sekarang Abeng udah gampang diatur kayak pas dipanggil udah mau nyaut, diajak lari-lari dan main petak umpet udah pinter, dan juga disuruh masuk cargo udah pinter masuk sendiri tanpa di paksa. Dan wajah super unyunya yang gak bisa tahan kalau udah mengkek atau minta makan :D

Abeng, terimakasih sudah hadir!

Find Me On G+

Mahdiyyah Ardhina (2016). Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Me :)

Google+ Followers